FOGFEST 2019, Sebuah Upaya Mem-Black Metal-Kan Nusantara
Hari ketiga dan terakhir di lembah Sekipan, kami terbangun dalam dekapan kabut. Sesuai agenda acara yang kami terima, hari ini adalah acara pemutaran film dan diskusi. Setelah selesai membereskan peralatan berkemah, kami bergabung dengan peserta yang lain di dalam tenda. Ternyata, selain acara pemutaran film dan diskusi, beberapa kawan juga melakukan pre-launching mini album dan video klip.
Film pertama yang diputar adalah kisah dari kawan-kawan Naratas Akar dari ATAP Class yang menampilkan film "Oslo - The Roots of Black Metal". Film tentang perjalanan ketika berkunjung ke situs black metal di kota Oslo, Norwegia. Karina yang hadir mewakili ATAP Class memberikan sambutan dan deskripsi terkait dengan film yang akan diputar. Setelah selesai, film berikutnya adalah karya dari Hernandes Saranela yang berjudul "Where Do We Go". Film yang mengisahkan perspektif tentang dinamika black metal di Nusantara.


Pemutaran film "Oslo, The Roots of Black Metal" (kiri) dan "Where Do We Go" (kanan) | Kredit foto: Karina Supriaman

Situasi pemutaran film dalam tenda | Kredit foto: Julious (Makam)
Selesai pemutaran film, dihadirkan narasumber Robi Rusdiana dari Bandung. Ia adalah seorang pelaku musik black metal yang juga akademisi di bidang seni musik dan pertunjukan. Melalui presentasinya, Robi mengingatkan kembali tentang black metal yang mempunyai kesatuan utuh antara unsur musik sebagai pengantar suara dan kostum sebagai pengantar visual. Artinya, kedua unsur tersebut harus selalu diperhatikan oleh band yang tampil di panggung. Kritik juga dilontarkan oleh Robi terkait luputnya perhatian panitia dalam menyiapkan sistem tata suara yang layak, terlepas dari embel-embel kata "militansi". Tidak lupa juga, Robi memperagakan beberapa teknik vokal black metal dalam berbagai ragam.
Dalam sesi tanya jawab, pembahasan melebar menyinggung berbagai aspek teknis dan non teknis, baik yang berkaitan dengan film yang diputar maupun menanggapi dinamika musik black metal yang terus berkembang sesuai dengan kemajuan industri musik global. Hingga semua bahasan mengerucut pada satu pertanyaan krusial yang berkaitan dengan definisi "Seperti apakah black metal Nusantara?".

Robi Rusdiana sebagai narasumber di Fogfest 2019 | Kredit foto: Karina Supriaman
Menurut Robi, definisi menjadi tidak penting ketika musik pada akhirnya melahirkan aneka ragam ekspresi. Apalagi, jika bicara wilayah Nusantara yang terdiri dari struktur sosial dan budaya yang majemuk. Semuanya hadir memberikan warnanya sendiri, termasuk dalam musik black metal yang terus tumbuh dan mengalami pasang surut dalam menemukan penikmatnya. Kemajemukan inilah yang seharusnya menjadi sebuah definisi. Wilayah ekspresi yang mewakili rasa yang sudah sewajarnya menjadi sesuatu yang otonom dan lepas dari segala kendali, standarisasi dan definisi.
Gerimis kembali menyapa ketika waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WIB. Semua bertepuk tangan ketika secara resmi gelaran Fogfest 2019 ditutup. Wajah-wajah lelah tergurat jelas dari tiap peserta maupun panitia yang selama tiga hari memberikan energi mereka dengan sepenuh hati. Salam perpisahan dibagi pada setiap orang yang selama tiga hari sudah berbagi inspirasi. Kami masih harus berlomba dengan waktu agar bisa mengejar jadwal bus terakhir menuju Solo. Bersama kabut Gunung Lawu dan gerimis, kami tinggalkan lembah Sekipan menyambut singgasana malam dan kegelapan total.
Comments (0)