'Folk Is Dead': Di-Harakiri Iksan Skuter, Demi Kematian yang Lebih Berwibawa
Hubungan antara Geografis dan Ekspresi; Kota Malang untuk Iksan Skuter
Setiap tempat menawarkan sensasi masing-masing. Iksan Skuter setuju akan itu, bahwa ada hubungan yang sangat erat antara geografis dan ekspresi. Ia kemudian bercerita pengalamannya ketika tinggal di Jakarta dan melahirkan album pertamanya, Matahari (2012) dan Folk Populi Folk Dei (2013).
"Ketika aku dulu membuat album ke-satu dan ke-dua di Jakarta, isinya meledak. Keluar gang aja udah bisa mengumpat "Anj*ng! Ng*tot!", dan di situ aku sudah dapat materi lirik, tematik lirik dan lain sebagainya. Lalu, tiba-tiba aku pulang ke Kota Malang atau datang ke Bandung yang semua ritmenya sangat berbeda. Rasanya, aku langsung landing, mesinnya stand by, gak jalan juga gak mati, sampai lahir lah lagu "Shankara" atau "Bapak"," katanya.
Lalu, ia lanjutkan ceritanya. "Aku pernah ngomong gini ke salah satu temanku, Jason Ranti namanya. "Je, coba kamu bikin album baru di Yogyakarta, Bandung, Malang, Magelang, atau Salatiga." Dia tanya apa alasannya. Ya, alasanku tadi, aku meyakini lokasi kita membuat karya sangat berpengaruh ke karya itu sendiri. Jakarta ku rasa adalah tempat yang tepat untuk meluapkan apapun. Aku ingin tahu akan seperti apa karya Jason Ranti kalau dia bikin lagu di luar Jakarta. Aku saja kalau dengar lagi album pertama dan kedua rasanya malu. Malu dalam artian, "Janc*k, aku kok bisa bikin lagu gini ya?" Kadang aku kaget, aku kok menjadi orang yang aneh. Rasanya stres banget ini album."
Jakarta sangat berbeda dengan Malang, kota kelahiran dan tempat ia tumbuh. Kota terbesar kedua di Jawa Timur itu cenderung lebih ramah untuk ditinggali, kalau istilahnya Iksan Skuter: "Berkeringat saja jarang". Bandung juga kota yang jadi rumah untuknya, yang secara atmosfer, histori, planologi hingga letak geografisnya sangat mirip dengan Malang. "Kota Malang dan Bandung secara historikal kayak kakak-beradik. Kita punya hubungan yang sangat bagus, sebenarnya, kecuali dalam sepak bola yang saya juga gak ngerti alasannya apa. Padahal, dalam kesejarahan komunitas musik, Malang, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta adalah simpul-simpul yang di era '90an sangat erat sekali," kenangnya.
Comments (0)