'Folk Is Dead': Di-Harakiri Iksan Skuter, Demi Kematian yang Lebih Berwibawa
Namun, hidup di "kota santai" ternyata juga menawarkan tantangan. "Kota-kota itu sangat nyaman sekali untuk kita bisa santai. Santai dalam konteks seniman ku rasa membahayakan, membunuh kreativitas. Akhirnya itu menjadi "ancaman" juga kalau aku terlalu terbawa atmosfer santai itu di konteks berkesenian. Aku milih untuk gak santai di konteks berkesenian dan terus memotivasi diri. Tapi, kota apapun memberiku pengalaman baru."
"Kota-kota itu sangat nyaman sekali untuk kita bisa santai. Santai dalam konteks seniman ku rasa membahayakan, membunuh kreativitas."
Iksan Skuter, Si Musisi "Pemarah"
Dalam pertemuan kami bersama Iksan Skuter, kami juga membahas beberapa tanggapan yang seringkali ditujukan pada Iksan Skuter. Banyak yang menganggapnya sebagai musisi yang "kritis melulu", julukan bahwa Iksan Skuter adalah "Iwan Fals versi milenial", bahkan anggapan bahwa Iksan Skuter mengangkat isu kemiskinan untuk "dijual".
Tentang lagu yang kritis melulu, ini sebenarnya sudah terjawab ketika kita membahas soal korelasi antara geografis dan ekspresi. Tidak semua lagu Iksan Skuter isinya marah-marah. Ada lagu yang juga berisi soal kehidupan personal, masih tentang ia sebagai makhluk sosial, tapi tidak sedang menggerutu.
"Ada satu album yang ku rilis tahun kemarin dan belum pernah aku dengarkan sampai detik ini, album Bapakku Indonesia. Kenapa? Karena sedih. Rasanya sedih sekali. Rasanya janc*k, aku gak mampu mendengarkan."
"Aku sudah buat sebelas album dan banyak sekali varian tema dan lirik. Kalau ada yang bilang Iksan Skuter liriknya pedas, mungkin hanya itu yang dia dengar. Begitu pun sebaliknya, ketika mereka biasa dengar lagu "Pulang" atau "Bapak" mungkin juga kaget dengar laguku yang kritis. Intinya, aku menyuarakan banyak tema dengan berbagai cara dan tidak semuanya seperti karet dua itu: ada karet satu, ada juga yang tidak pedas sama sekali. Kalaupun itu marah, itu adalah ekspresiku sendiri, pribadi, menyikapi apa yang pernah aku lewati, dengar, lihat dan rasa. Aku lampiaskan itu lewat karya seni."
Ia ambil satu contoh album, Bapakku Indonesia (2018). "Album itu dirilis tahun kemarin dan sampai detik ini belum sekalipun aku dengarkan. Kenapa? Karena sedih. Rasanya sedih sekali. Di situ aku berkolaborasi dengan Kang Maman, di sela-sela lagu selalu ada puisi yang jadi perantara ke next track-nya. Rasanya janc*k, aku gak mampu mendengarkan. Album itu sangat personal, sedih sekali." Ini menjawab bahwa Iksan Skuter mungkin memang identik dengan lagu-lagu dengan tema sosial dan perlawanan, tapi tidak semua lagunya adalah tentang amarah.
Comments (0)