'Folk Is Dead': Di-Harakiri Iksan Skuter, Demi Kematian yang Lebih Berwibawa
Addy Gembel kemudian menimpali jawaban itu dengan kemungkinan lain: bisa saja faktornya juga datang dari pendengar. Bahwa mungkin pendengar sudah muak dengan segala macam musik protes, musik-musik "perlawanan" dan memunculkan frustasi sosial. Iksan Skuter pun setuju dengan pendapat itu. Tapi ada pandangan lain darinya yang membuatnya tetap "tidak akan ke mana-mana" dari musik folk yang ia nyanyikan.
"Aku meyakini bahwa apapun karya yang kita buat dan itu didengar oleh manusia lain pasti akan berdampak. Bisa dalam cara berpikir, melihat dan menyikapi sesuatu. Seperti halnya diriku yang dulu juga mendengarkan musik-musik folk saat kecil: ada Franky dengan caranya, Gombloh dengan caranya, Leo Kristi dengan caranya, Doel Sumbang, Sawung Jabo, banyak sekali musisi-musisi folk yang aku dengarkan pada saat aku kecil dan itu membuat diriku hari ini. Tapi, pada saat aku mendengarkan musik mereka saat itu, aku juga mendengarkan varian musik yang banyak. Aku juga mendengarkan Metallica dengan hingar-bingarnya, Sepultura, semua aku dengarkan. Jadilah diriku hari ini. Tapi, ketika semua "indah" itu tadi disuguhkan dalam bentuk karya seni hari ini dan mendominasi, ku rasa akan membosankan, biarpun itu sah-sah saja. Kalau karya protes dianggap membosankan, ku rasa karya protes itu tidak banyak."
"Fungsi karya bagiku memberi pilihan. Karya yang sifatnya protes itu akan terkoneksi dengan diri manusia lain jika mereka satu frekuensi denganku."
Ada tanggapan lainnya dari Addy Gembel. "Jangan-jangan, generasi hari ini sudah tidak butuh itu? Mungkin mayoritas dari mereka tidak punya masalah pangan yang menimpa mereka, tidak ada kesulitan ekonomi, tetap bisa kuliah, bisa nongkrong, bisa ngopi di tempat kopi paling mahal sekalipun?". Iksan Skuter kembali menganggap itu adalah hal yang mungkin terjadi hari ini.
"Cuma memang fungsi karya itu, bagiku, memberi pilihan. Ada satu kasus. Ada satu manusia yang mendengarkan lagu yang sama, laguku, di dua kondisi yang berbeda: ketika dia masih di kondisi baik-baik saja beberapa tahun lalu dan ketika tiga tahun kemudian, setelah lulus kuliah dan ada di tengah sistem pekerjaan yang sangat menekan. Kata si dia, "Mas, lagumu pas banget buat aku hari ini." Aku nanya balik, "Lah, memang laguku yang kau dengar beberapa tahun kemarin kenapa?". Dia jawab, "Ya, waktu itu aku gak ngerasain apa-apa, Mas, karena hidupku normal." Nah, aku merasa, mungkin ketika kita menyuguhkan karya yang sifatnya protes itu akan terkoneksi dengan diri manusia lain jika mereka satu frekuensi denganku."
Comments (0)