'Folk Is Dead': Di-Harakiri Iksan Skuter, Demi Kematian yang Lebih Berwibawa

'Folk Is Dead': Di-Harakiri Iksan Skuter, Demi Kematian yang Lebih Berwibawa

Apa yang Iksan Skuter Rencanakan Selanjutnya?

Ada beberapa agenda yang sudah jadi catatan untuk Iksan Skuter. Selain rencana membuat album kompilasi dengan teman-teman yang terlibat di Tur Balakosa seperti yang diceritakan di artikel sebelumnya, ia juga berencana untuk merilis sebuah buku.

 "Andai kata kau seorang penulis, ayo kita membuat tulisan, aku membuat lagu, kita kolaborasi. Andai kata kau seorang desainer, ayo kita membuat desain kaus lalu kita jual, untuk kita, untuk ekonomi, untuk menghidupi orang-orang sekeliling."

"Insya Allah, semoga lancar, setelah tur ini selesai, kami rehat sebentar lalu rilis buku. Aku gak tahu itu judulnya buku atau kumpulan puisi atau lirik atau syair. Awalnya, ide muncul dari temanku, seorang penerbit buku independen dari Yogyakarta. Dia bilang, "Mas, lagumu kan banyak, itu liriknya kalau dibuat buku lucu kelihatannya." Ide itu menarik untukku, dan aku baru sadar ternyata memang banyak juga, hahaha... Aku mengiyakan tawaran temanku itu. Minimal, poinnya adalah mendokumentasikan. Bagaimanapun juga, sebuah lagu memiliki lirik dan berkaitan dengan sastra, dan sastra itu menurutku harus terdokumentasi dalam literasi sebagai bukti peradaban," katanya.

Ia juga punya cita-cita lainnya, terkait jejaring yang ia pelihara di berbagai kota, terutama dengan mereka yang "satu frekuensi". Ia ingin memertahankan koneksi itu dalam konteks karya. "Andai kata kau seorang penulis, ayo kita membuat tulisan, aku membuat lagu, kita kolaborasi. Andai kata kau seorang desainer, ayo kita membuat desain kaus lalu kita jual, untuk kita, untuk ekonomi, untuk menghidupi orang-orang sekeliling."

BACA JUGA - Iksan Skuter dan Balakosa; Sebuah Perjalanan Spiritual dan Introspeksi

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner