Folklore dari Tanah Makassar

Folklore dari Tanah Makassar

Musik Folk kembali menjadi pilihan bagi banyak musisi indie saat ini. Sebelum jauh kita mengenal istilah indie, banyak dari musisi Indonesia yang  jauh sudah terlebih dahulu membawakan musik”rakyat”ini. Baik yang masih dalem pakem musik folk tradisional itu sendiri, maupun yang dicampur dengan musik ethnic,tribal, world music, rock, jazz, pop, alternative, punk, bahkan hingga musik metal sekalipun. Kita ambil contoh ada Harry Roesli, Iwan Fals, Sawung Jabo, Franky and Jane Sahilatua, Ebiet G.Ade, Dik Doang, Oppie Andaresta dan masih banyak lagi.

Untuk generasi sekarang banyak sekali musisi indie yang kembali menggunakan musik folk sebagai alat pembawa pesan  mesin kreatif mereka. Bercerita tentang keadaan sosial, ekonomi, agama, cinta, kemarahan, persahabatan,mimpi, dongeng serta kebudayaan arif lokal daerahnya. Theory of Discoustic, kelompok musik folk Makassar yang merilis mini album pertamanya, Dialog Ujung Suar . Empat lagu yang menitikberatkan imajinasi. Agar terkesan tidak monoton, ditambahkan unsur cerita rakyat Sulawesi Selatan.

Setidaknya ada dua lagu di mini album ini yang berbicara demikian – baik dari segi lirik maupun musik. Pertama adalah “Bias Bukit Harapan”, lagu daerah Bugis berjudul asli “Indo’ Logo” yang diadaptasi ke bahasa Indonesia. Cerita tentang harapan sepasang kekasih untuk bertemu. Ibarat sepasang gunung yang berdampingan, seperti itulah penggambarannya. 

Lalu yang kedua adalah “Harapan Musim Penghujan”. Lagu ini diambil dari cerita rakyat Sulawesi Selatan untuk meminta hujan saat musim kemarau. Dikisahkan bahwa masyarakat melakukan tarian pelangi atau tari meminta hujan (pabbakanna lajina) kepada semesta. Dengan menari, masyarakat memanjatkan doa agar alam semesta mengatasi kemarau dan hujan lebat turun mengairi ladang mereka. Erat kaitannya dengan unsur klenik khas kedaerahan. Gerak tari tersebut diterjemahkan Theory of Discoustic sebagai lirik, “Sebuah kemarau dan persembahan harapan penghujan…lentik jemari merayu alam sumpahkan niat dalam sebuah gerak tarian.” begitu bunyinya.

Mini album ini ditutup dengan “Dialog Ujung Suar”. Dari judulnya saja sudah berpotensi untuk menandai bahwa lagu ini lagi-lagi datang dari kontrol imajinasi. Inti lagu ini menurut mereka adalah kehadiran seseorang tidak harus selalu berupa fisik, namun bagaimana merasakan kehadiran itu. Secara logika itu tidak ideal, tapi secara imajinasi itu ideal. Hal yang berkembang dari imajinasi adalah manusia menciptakan dunia idealnya sendiri. Berbahaya jika manusia sudah tidak mau tahu dan mengenali apa yang benar-benar nyata karena hal demikian. Imajinasi tentu perlu, tapi manusia harus cermat dengan porsi agar tidak terjebak dalam lingkaran labirin imajinasi itu sendiri.

Grup musik indie Makassar ini terbentuk tahun 2010 dengan personil Dian Megawati di vokal juga harmonica, ada Reza Enem di gitar string, Nugraha Pramayudi pada gitar nylon.Mereka juga mengajak beberapa musisi muda Makassar untuk turut serta membantu sebagai additional di jajaran bass, keyboard synthesizer, dan drum.

'‘Dialog Ujung Suar” adalah kumpulan imajinasi Theory of Discoustic. Karena setiap manusia mempunyai imajinasi yang berbeda, ada peluang bagi pendengarnya untuk memberi penafsiran lain yang begitu ambigu. Tolak ukur lirik yang melampaui kenyataan dengan tampilan musik sederhana merupakan hal bertolak belakang tapi mengacuhkan keharmonisan. Mungkin seperti ini siasat musik folk asal tanah Bugis.

Di tahun 2013, mereka merilis Left Track disusul single Note Of Anxiety, sebelum itu di tahun 2011-2012 mereka merilis dua single, berjudul Night Memory dan  Refraction From The Sun.

Link  Mini Album "Dialog Ujung Suar" https://soundcloud.com/theory-of-discoustic dan video mereka di link berikut http://vimeo.com/85579734

Disari dari berbagai Sumber

Sumber Foto : http://linonipi.wordpress.com dan http://soundcloud.com

 

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner