Friday 13th Versi Musisi Lokal Indonesia

Friday 13th Versi Musisi Lokal Indonesia

Jumat 13 Oktober 2017. Mari membahas tentang Friday 13th dan menyimak cerita Morgan (Rajasinga), Ebenz (Burgerkill), Bebi (Beside), Hardy (Taring), dan Addy Gembel (Forgotten) mengenai kisah horor ini!

Dikutip dari sebuah blog yang dinamai Metronome, kisah ini dimulai sekitar 700 tahun lalu, tepat pada hari Jumat, 13 Oktober 1307. Saat itu, di bawah perintah Raja Philip IV dari Perancis dan atas persetujuan Paus, tentara kerajaan dengan operasi terencana melakukan penangkapan semua Ksatria Templar di Perancis. Hasil titah itu membuat sekitar 15.000 anggota Templar ditangkap. Mereka ditangkap karena tuduhan yang berkaitan dengan bid'ah, penghujatan, dan amoralitas. Para anggota Templar yang ditangkap disiksa sampai mati. Raja Philip IV mendapatkan keuntungan karena kejadian ini, karena semua aset diambil oleh Sang Raja.

Salah satu ksatria yang ditangkap adalah Jacques de Molay. Ia disiksa dan diikat di tiang, dan dibakar di depan Katedral Notre Dame. Kata-kata terakhirnya mengutuk langsung sang Raja dan Paus. Entah memang kata-kata itu menjelma menjadi sebuah kutukan, secara kebetulan Paus meninggal satu bulan kemudian, dan Raja meninggal sembilan bulan kemudian. Inilah latar belakang dari Friday 13th dan kisah-kisah seputaran angka sial 13.

Seiring berjalannya waktu, peristiwa itu menjadi identik dengan sesuatu yang horor dan mengerikan. Banyak peristiwa mistis yang dihubungkan dengan cerita itu. Beberapa di antaranya diangkat menjadi buku, film, sampai lagu. Meskipun pada perkembangannya, cerita yang didasari dari peristiwa Friday 13th sudah banyak melebar dari cerita aslinya, tapi nuansa horor kian terasa ketika itu dihubungkan dengan peristiwa berdarah tersebut, atau lebih tepatnya dengan hari, tanggal dan bulan tersebut.

Tepat di hari tulisan ini dimuat, DCDC mendapat kesempatan untuk bertanya kepada beberapa orang musisi tentang lagu-lagu yang dirasa cukup horor bagi mereka, dari kantong album musik yang mereka hasilkan. Ada ragam cerita menarik melatar belakangi lagu itu yang dinilai cukup memberikan kesan horor atau menakutkan bagi mereka.

“Penjara” (Album III) – Rajasinga
Ditanyai tentang lagu yang berkaitan dengan Friday 13th, Morgan, sang vokalis dan bassist dari Rajasinga memilih lagu “Penjara”. Secara personal, Morgan memaparkan bahwa lagu ini cukup mewakili penggambaran tentang sesuatu yang horor atau menakutkan. “Suram aja, dalam ruangan dingin, kecil, cuma ngebayangin ketawa jahat iblis-iblis seragam di luar sana, menunggu tebusan,” jelas Morgan ketika ditanyai alasan ia memilih lagu itu untuk mewakili suasana horor yang meliputi Friday 13th. “(Itu) semacam cerita yang membekas, selepasnya, dan hal yang membekas itu menakutkan,” tambahnya.

“Laknat” (Album Beyond Coma and Despair) – Burgerkill
Lain lagi ketika Ebenz yang ditanyai tentang lagu Burgerkill dan korelasi dengan Friday 13th. Alih-alih membahas tentang konsep, Ebenz memilih “Laknat” karena kisah yang memang berkaitan dengan cerita horor pada kenyataannya. Lagu ini menjadi soundtrack dari film bergenre horor yaitu “Malam Jumat Kliwon”. Proses pembuatan klipnya pun dilakukan tepat di tempat syuting film tersebut, yaitu di kawasan Cisarua, Bogor. Hal ini otomatis membawa atmosfir menakutkan dari film tersebut ke dalam klip yang diambil dari album ketiga Burgerkill.
NB: Sebenarnya, pemilihan lagu ini disertai dengan tawaan Ebenz, dan merupakan revisi dari jawaban sebelumnya. Awalnya, Ebenz memilih lagu “Anjing Tanah”, karena berkaitan dengan “setan kasur”, katanya. (hahaha...)

“Aku Adalah Tuhan” (Album Against Ourselves) – Beside
Bebi, drummer dari Beside menuturkan jika lagu Beside yang berjudul “Aku Adalah Tuhan” cukup memberi kesan mistis yang kental. Alasannya karena lirik yang dinilai cukup frontal, berbicara tentang hal yang bisa memancing multitafsir orang kebanyakan. Bebi menambahkan, esensi lagu ini akhirnya bertambah karena pada akhirnya pendengar “dituntut” untuk dapat mempelajari lagu tersebut sebelum menyimpulkan, dan dari segi musikalitas lagu ini memiliki feel dan aura yang berbeda dan kuat.

“Senja di Atas Payung Hitam” (Album Orkestrasi Kontra Senyap) – Taring
Ketika Hardy Nyanknyank yang dapat bagian untuk memilih, sudah hampir pasti cerita yang akan dipaparkan akan berhubungan dengan keadaan sosial, mengingat Taring memang merupakan band dengan kepekaan yang tinggi pada masalah tersebut. Ia menjawab bahwa lagu “Senja di Atas Payung Hitam” memiliki aura yang mengerikan, di mana lagu itu menceritakan tentang perjuangan seorang ibu korban Hak Asasi Manusia (HAM) yang tanpa lelah mencari orang yang ia cintai. Orang itu dihilangkan, dan tahun ini sudah menginjak tahun ke 12 orang itu lenyap. Kehilangan orang yang disayangi adalah momok bagi setiap manusia, terutama ketika orang itu adalah tombak keluarga. “Tidak hanya batin yang diserang, lahir pun menjadi korban,” ungkapnya.

“Tiga Angka Enam” (Album Tiga Angka Enam) – Forgotten
Saya selalu kesulitan mengutak-atik narasi bikinan Addy Gembel. Rata-rata, kata yang ia buat sudah menjadi satu paket yang terlalu sayang jika diselingi pemikiran saya sendiri. Sialan memang, tulisannya selalu berhasil membuat saya terbelalak dan merasa bodoh karena ketidakmampuan. Jadi, biarkan narasi pada kisah lagu ini total berdasarkan pemaparan Addy Gembel.
“Liriknya dibuat dalam situasi ketika saya merasa dunia membenci saya. Zaman di mana saya masih dikuasai super ego dan merasa mampu melakukan semuanya. Lalu, saya dihadapkan pada situasi di mana saya harus kehilangan banyak hal berharga dalam hidup. Adik, kawan seperjuangan, kalah dalam banyak hal (seperti gagal memperjuangkan apa yang seharusnya menjadi sebuah kebenaran dan keadilan), dan lain-lain. Hingga akhirnya, dengan sadar saya mendamparkan diri di titik tergelap dalam hidup. Menjadi lawan Tuhan, menjadi anti-tesa dari semua doktrin teologi. Membangunkan “setan” yang memang sudah ada di dalam diri untuk mendominasi nalar. Tidak untuk disembah atau dipuja, tapi untuk diperintah.”

BACA JUGA - Hari Ini adalah Friday 13th, dan Kamu Harus Mendengarkan Lagu-Lagu Ini!

Artikel ditulis oleh Karina Supriaman dan Angga Wiradiputra. Sumber berita diambil dari http://sometronom.blogspot.co.id/2013/06/misteri-friday-thirteen-sejarah.html, dan interview langsung dengan Morgan (Rajasinga), Ebenz (Burgerkill), Bebi (Beside), Hardy Nyanknyank (Taring), dan Addy Gembel (Forgotten).

Source Foto: Pinterest, edited by Alfie Fadhlan

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner