Gema Karinding, Alat Musik Khas Sunda Yang Tersohor (part 6-habis)
by: Bobby Agung Prasetyo


Pamor Karinding yang cukup mencuat beberapa tahun belakangan ini, memang tidak terlepas dari peran komunitas metal scene Bandung seperti komunitas Ujungberung Rebel yang mana beberapa personil dari band beraliran cadas, berinisiatif membentuk sebuah grup musik tradisi bernama Karinding Attack (dibahas pada artikel part sebelumnya-RED) pada tahun 2009 dengan memainkan alat-alat kesenian sunda buhun yang salah satunya adalah karinding. Beberapa event musik lokal bagi band cadas seperti "Bandung Berisik" kerap memberikan ruang bagi kesenian tradisi ini untuk berkolaborasi dengan beberapa band dalam rangka turut melestarikan seni budaya daerah. Namun, sudahkah hal tersebut menyelamatkan keberlangsungan Karinding untuk kedepannya?
Bagi pemain karinding saat ini keberadaan mereka menunjukkan suatu kebangkitan budaya lokal karena karinding yang notabene merupakan seni tua sanggup eksis dan bersaing dengan seni modern yang berasal dari luar negeri. Kemunculan kembali karinding sebagai permainan yang telah ada enam abad yang lalu tidak lain merupakan suatu bentuk dari keinginan sebagian besar masyarakat kaum urban (korban utama modernitas) untuk kembali terhubung dengan sejarahnya sendiri. Dengan cara itu mereka ingin meneguhkan identitasnya seraya melawan gempuran modernitas ala Barat yang begitu hegemonis. Di sisi lain, memainkan karinding saat ini adalah bentuk modernitas juga, sekali lagi karena ia dianggap baru dan berbeda.
Dicap punah atau tidak, semuanya ada dalam tangan kita. Namun sesuai dengan perjalanannya yang cukup panjang dan melegenda, maka jahat rasanya bila kita mendiamkan Karinding untuk punah dan terhempas sedikit demi sedikit layaknya abu. Ada berbagai banyak cara untuk melestarikan alat musik ini, lantas bagaimanakah cara kalian?




*diolah dari berbagai sumber
Foto : Dokumen Istimewa bandung.bisnis.com taufiksundanese.blogspot.com, Arianstone Copyright
Comments (0)