Hailien Fest 2019; Sebuah Ajang Timbal Balik dan Manifesto
Ada beberapa hal dari Trojan dan Hailien Fest yang patut dicontoh, terutama oleh kawan-kawan yang bergerak di ranah yang sama. Jika semua berada dalam satu tujuan yang sama—menyadarkan seberapa besar potensi dari ranah musik ekstrim dan turut mengembangkannya—maka hal-hal ini nampaknya perlu diikuti dan dilaksanakan secara komunal.
Pertama, di tengah berbagai macam dinamika dalam ranah musik underground yang seringkali masih sulit “diterima”, masih ada mereka-mereka yang keras kepala untuk tetap konsisten berdiri di sana, Trojan salah satunya. Dua belas tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus berkarya dan bertahan, dan kita patut angkat topi untuk itu.
Kedua, kesadaran untuk membuat ranah musik ini tetap hidup terus terbangun. Menggelar sebuah acara—tanpa bicara skala—adalah salah satu cara untuk membuat teror ini terus mengancam, dan Hailien Fest 2019 jadi salah satu agenda yang memperpanjang nafas itu, khususnya di kawasan Bali.
Ketiga, jalinan pertemanan dan perluasan jejaring masih tetap dipelihara. Tujuh band yang turut serta menyukseskan acara Trojan hanya contoh kecil dari besarnya semangat untuk mendukung satu sama lain. Hailien Fest yang dicanangkan menjadi acara tahunan tentu diusahakan untuk semakin berkembang dalam berbagai hal, dan Trojan berharap untuk bisa mengajak kawan-kawan lainnya, atau bahkan menggelar Hailien Fest di daerah luar Denpasar, dengan harapan turut memberi dampak positif pada band dan potensi di daerah tersebut. Mengesampingkan manis-pahit komentar yang pasti datang bersamaan dengan inovasi, Trojan memilih untuk menutup telinga dan fokus pada usaha mereka untuk menyuguhkan yang terbaik. Jika pun harus ada persaingan, biar karya yang jadi amunisinya.

Selain itu, Trojan juga peka untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan penggemarnya. Trojan sadar bahwa keberhasilan mereka tidak lepas dari peran orang-orang yang mengapresiasi Trojan selama 12 tahun. Trojan tahu bahwa berterima kasih adalah hal yang wajib, dan Hailien Fest jadi sarana di luar lisan untuk mengutarakan itu. Loyalitas dapat semakin kuat mengakar di kedua belah pihak. Berangkat dari sana, seyogyanya banyak hal positif yang bisa direalisasikan bersama.
Terakhir, masih ada mimpi dan cita-cita yang terus ingin diwujudkan. Dari mimpi dan cita-cita, muncul target, rencana, dan usaha. Setelahnya, muncul inovasi dan karya. Dari aksi, muncul reaksi. Siklus ini yang membuat ranah apapun tetap hidup, yang pada artikel ini dikhususkan pada ranah musik. Maka, bukan hal yang mustahil ketika Trojan berucap bahwa mimpi mereka adalah ingin ambil bagian dalam mengembangkan ranah musik metal di Bali, bahkan ingin membuat Bali sebagai destinasi wisata metalheads Indonesia maupun dunia. Mimpi adalah milik siapa saja, harus tetap ada, dan dibuat nyata, tak hanya oleh Trojan tapi juga oleh kawan-kawan di ranah musik bawah tanah lainnya.
Comments (0)