Halus, Sensual, dan Nyata : Benten +62 Dalam Imajinasi Romantisme Melankolis

Halus, Sensual, dan Nyata : Benten +62 Dalam Imajinasi Romantisme Melankolis

Simpulan dari apa yang dimaksud Benten +62 adalah suatu tema yang imajinatif dipadupadankan dengan kisah romantisme realita saat ini menjadi sebuah karya musik sastra yang berwarna

Benten+62 telah mengeluarkan EP bertajuk And This yang dirilis secara independen via rilisan fisik yang hadir pada Records Store Day (RSD) Bali pada tahun 2019. Berselang setahun, Benten+62 pun merilis album penuh yang dirilis secara digital dengan tajuk album Awan Hitam. Tepat tahun 2021, Benten+62 mengeluarkan satu lagu kolaborasi dengan salah satu teater kalangan bernama Agus Noval yang berjudul “Penguntit” yang dirilis secara digital. Memilih trio keputusan yang tegas untuk saat ini dan mengajak satu kawan mereka pada posisi drum yaitu Aris dari Mancis.

Jika “Deru Musim Hujan” menjadi candu, setelah lagu “Penguntit” (feat. Agus Noval Rivaldi) mengudara tanpa privasi, Benten+62 merayakan Imlek yang baru kemarin lewat, mengumandangkan lagu “Pagi Datang, Lagu Lenyap Sudah” dengan imajinasi romantisnya.

Kesan melankolis sengaja dibuat Benten +62 bersamaan dengan momentum hari raya  Tahun Baru Imlek Kongzii umat Tionghoa, namun bukan diperuntukan untuk perayaan imlek.

“Bayangan tentang masa kini yang terjadi pada setiap orang bahwa pernyataan memaksa kehidupan orang untuk lekas menikah adalah kehidupan yang sangat pantas. Padahal suatu pernikahan pun belum tentu kehidupan kita akan menjadi lebih baik daripada sebelumnya.” Ungkap Benten +62.

Simpulan dari apa yang dimaksud Benten +62 adalah suatu tema yang imajinatif dipadupadankan dengan kisah romantisme realita saat ini menjadi sebuah karya musik sastra yang berwarna. Menjembatani keperaduan mini album pada rentan waktu yang dekat milik trio alternative rock asal Denpasar, Bali ini.

Bagi pembaca yang masih awam, Benten +62 adalah unit noise rock yang diisi suatu perkumpulan anak muda yang saat itu masih menyandang status sebagai mahasiswa pada tahun 2018. Singkat cerita, trio bajingan yang terdiri dari Ginting pada gitar dan vokal; Dona pada gitar; dan Edo pada bass merupakan formasi lengkap terkininya.  Tiga anak muda berandal yang secara terus terang mengakui bahwa musik mereka sangat dipengaruhi, Morfem, Pure Saturday, Teenage Fanclub, Dinosaur Jr dan lainnya banyak membantu mengembangkan sensibiltas bermusik Benten + 62 sebagai sebuah grup musik. 

Oke, kita lewatkan bridging yang terlau deras mengalir di awal tulisan ini. Kita lupakan juga begitu banyaknya musisi yang berkeluh kesah akibat pandemi di setiap rilisan dua tahun kebelakang – pada awal tahun 2022 Benten +62 memberikan realita yang dirangkaikan dalam ruang imajiner berjudul “Pagi Datang, Lagu Lenyap Sudah”.

“Ini merupakan fenomena yang secara tidak langsung kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari peristiwa yang terjadi pada suatu pagi, lirik lagu ini bercerita tentang hal yang tidak jauh dari bayangan seseorang tentang bagaimana ia akan melanjutkan hidup kedepannya. Bagaimana ia akan menghadapi hari bersama sosok yang dicintainya. Bagaimana kehidupan yang akan dijalani dengan pasangan hidupnya, tentang sebuah dinamika dari kehidupan sepasang kekasih mulai dari pagi datang, hingga kembali pagi lagi.” Tukas Edo.

Urusan syair lagu, ditulis Ginting berdasarkan pengalaman personalnya. Keresahan yang terlintas dalam pikirannya, dinamika kehidupan romansanya, lekas-lekas ia tulis menjadi lirik. Menariknya, dua personil Benten +62 justru merespon lagu yang diciptakan Ginting masih memilik makna yang lebih luas. Sealur pelbagai rupa persitiwa yang dialami pemuda – pemudi tanggung dalam lakon hidup sehari-hari di era serba cepat ini.

“Liriknya itu berawal dari puisiku dulu, lalu aku tuangkan di musik. Kalau ideku itu puitis ya aku tuangkan langsung menjadi suatu musik yang puitis.”, ungkap Ginting. “Keresahan yang aku alami pun menjadikan hal positifnya menjadi puitis dan musiknya tercipta ketika rasa yang aku alami pada saat itu juga.”, tambah Ginting. 

Gambaran yang muncul dari hal-hal sederhana, imajinasi Ginting bangun dari tidurnya di pagi hari. Paras ayu istrinya jadi menu sarapan pertama. Membangunkan dan membantu bersiap Ginting yang masih bermata berat sisa khamr semalam saat lembur di kantor. Hari itu Ginting menuju kantor yang sama ia habiskan semalam suntuk sebelumnya. Herannya, hanya cuplikan pagi hari saja yang terbayangkan. Setelah serangan pagi, lenyap sudah imajinasi dihantam realita!

Secara garis besar, ini adalah kisah-kisah dari kehidupan rumah tangga Ginting kelak. Nostradamus bagi dirinya sendiri. Entah ia benar-benar akan mengalaminya, bisa saja tidak. Di kemudian hari ia memutuskan untuk selibat serupa Morrissey, tidak ada yang tahu. Atau tiba-tiba menerima wahyu dan Ginting memutuskan menjadi biarawan, tidak ada yang pernah tahu. Intinya Ginting dilanda resah, hati kecilnya berteriak.. Ini semua hanya nubuat Ginting saja, terdorong dari kicauan buru-buru menikah orang tuanya, supaya anaknya kilat berkawin. Representasi inilah yang tertuang dalam tembang lagu “Pagi Datang, Lagu Lenyap Sudah”.

Single ini merupakan lanjutan eksplorasi musik dari karya Benten+62 sebelumnya, yang berjudul “Deru Musim Hujan”. Segi aransemen yang dibangun dalam single ini cenderung menonjolkan hentakan ketukan drum yang diiringi dengan synthesizer dengan noise yang sedikit berkurang. Karakter tata suara yang dapat menjadi acuan gaya bermusik Benten+62 saat ini, melainkan dengan gaya musik Benten+62 yang dulu.

Halus, sensual, dan nyata – Benten +62 dalam siarannya mengakui, itikad dirilisnya single ini merupakan wujud eksplorasi musik dari karya Benten +62 sebelumnya, yang berjudul “Deru Musim Hujan”. Iringan aransemen yang dibangun pada single ini cenderung menonjolkan hentakan dan ketukan drum Aris (Mancis), pemain tambahan yang biasa membantu Benten +62. Dibarengi karakter tata suara  berjarak dan hasil synthesizer dengan kadar noise  yang berasal dari dua kanal kini sedikit dikurangi.  Perbedaan mencolok dari gaya bermusik Benten +62 dahulu, dengan yang sekarang. Kadar noise rock-nya berkurang, tapi tidak hilang. Disepuh pop sebagai pemanis.

Single ini menjadi  awal yang baik bagi perjalanan Benten+62 kedepannya, melewati sekelumit proses bermusik, saya berasumsi, single “Pagi Datang, Lagu Lenyap Sudah“ akan dapat dengan mudah bersemayam dalam gendang telinga teman- teman sekalian. Semoga menjadi awal pendewasaan Benten+62 untuk berkarya saat ini dan ikut memeriahkan kancah musik Nasional.

BACA JUGA - 25 Tahun ‘Relikui’ EP : Deru Mesin Industrial SEL Format Kaset

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner