Haruskah Musik Enak Didengar?
Apapun jenis musiknya, apapun model komposisinya musik akan selalu menemukan pendengarnya. Pendengar yang akan selalu tergugah dan terwakili perasaannya
Enak atau tidaknya sebuah komposisi musik adalah sebuah nilai relatif. Itu artinya, tidak ada standar khusus yang bisa membandingkan sebuah komposisi musik itu enak didengar atau tidak enak didengar. Beberapa pendapat bahkan justru mengembalikan semua itu pada selera pendengarnya. Semisal ada yang bilang masakan pedas itu enak, tapi ada pihak lain yang justru menganggap masakan pedas itu menyiksa dan malah bikin penyakit. Ada banyak pengertian tentang apa itu musik. Dalam kamus disebutkan jika musik adalah seni dari kombinasi ritmis nada-nada, vokal maupun instrumental yang melibatkan melodi dan harmoni untuk pengekspresikan apa saja yang memungkinkan, namun khususnya yang bersifat emosional. Sementara menurut seniman Remy Sylado musik adalah sesuatu yang memang untuk didengar. Musik merupakan wujud waktu yang hidup, yang merupakan kumpulan ilusi dan alunan suara. Alunan musik yang berisi rangkaian nada yang berjiwa akan mampu menggerakkan hati para pendengarnya.
Namun tidak selamanya musik harus terdiri susunan nada dan harmoni. Pada zaman sekarang banyak musisi yang bereksperimen dengan musik dan karya yang justru malah mencoba mendobrak dan menganggu definisi tentang musik itu sendiri, dengan karya musik eksperimental yang jauh dari kaidah harmoni dan tetap punya apresiator. Maka tidak heran dalam perkembangannya musik mengalami banyak perubahan dan modifikasi. Namun diawal perkembangannya tidaklah mudah untuk menampilkan sesuatu yang baru kehadapan publik.
Seperti yang dilakukan oleh Erik Satie, seorang komposer yang dikenal sebagai komposer nyeleneh dan nyentrik. Bertempat di Paris pada 18 Mei 1917, Satie melakukan pertunjukan orchestra yang menampilkan gubahan karya composer Jean Poueigh, dengan menambahkan efek suara yang dianggap radikal waktu itu, seperti suara ketikan mesin tulis, dentingan botol susu, suara tembakan, terompet kabut dan sirine. Reaksi penonton kala itu mereka menyoraki, mencibir, dan bahkan melemparkan buah jeruk pada orkestra itu. Puncaknya adalah pasca pertunjukan tersebut Poueigh kemudian menggugat Satie ke pengadilan. Setelah saling bertarung argumentasi akhirnya pengadilan memenangkan gugatan Jean Poueigh.
Begitu juga dengan awal kemunculan musik jazz di Amerika pada awal tahun 1900an. Musik yang bisa dikatakan sebagai musik tradisional bangsa budak afro amerika yang sejarah kemunculannya seolah menjadi musik pengiring akan pahit dan getirnya politik rasis yang dijalankan oleh Amerika kala itu. Sebagai musik yang menjadi curahan perasaan, musik jazz selalu dimainkan penuh improvisasi. Bahkan dalam pertunjukan musik jazz, sangat jarang ada musisi jazz yang memainkan lagu yang sama dengan gaya yang sama berulang kali. Menurut mereka lewat musik jazz mereka bisa mengekspresikan harapan mereka akan kebebasan. Memainkan musik tanpa harus dibatasi berbagai aturan baku tentang tempo dan harmonisasi.
Jika kita berkaca kembali pada fenomena kemunculan musik punk rock di Inggris pada awal tahun 60an. Di negara modern yang masih menerapkan sistem monarki feodal tersebut musik punk tidak mudah diterima masyarakat awam di Inggris sana. Apalagi musik tersebut beriringan dengan gerakan politik yang selalu bersebrangan dengan kebijakan pemerintah kala itu. Musik yang berisik, komposisi lagu yang hanya mengandalkan 3 chord, lirik yang kasar dan gaya dandanan nyeleneh seolah menjadi representasi dari kemuakan generasi muda Inggris pada sistem yang tidak adil. Tak heran diawal kemunculannya musik punk mendapat tentangan dari politisi konservatif dan kelompok sayap kanan radikal.
Berkaca dari peristiwa yang terkait perkembangan musik pada tiga masa tersebut akhirnya kita harus sepakat pada pendapat Herbert Spencer seorang filsuf Inggris yang mempertimbangkan musik sebagai seni murni tertinggi yang terhormat. Dia beranggapan bahwa musik adalah pengalaman estetis yang tidak dapat dibandingkan pada setiap orang. Dari beberapa pendapat seniman dan filsuf kita mendapatkan sebuah titik tengah terlepas dari teori tentang melodi dan harmoni yang selaras. Ternyata musik selalu melibatkan perasaan atau rangkaian nada yang berjiwa. Jadi, apabila didengarkan maka pendengar akan mendapatkan pengalaman estetis dan mampu menggerakan hati para pendengarnya. Apapun jenis musiknya, apapun model komposisinya musik akan selalu menemukan pendengarnya. Pendengar yang akan selalu tergugah dan terwakili perasaannya.
Comments (0)