Heals: “Sangat Mungkin Kedepannya Musik Kami Berubah”
Menjadi salah satu rooster muda dari label besar FFWD Records, Heals baru saja melepaskan album perdana bertajuk Spectrum. Dalam proses penggarapan materi yang sesuai dengan apa yang diharapkan, Heals yang beranggotakan Alyuadi Febryansyah (Vokal/Gitar), Reza Arinal (Vokal Latar/Guitar), Muhammad Ramdhan (Gitar), Octavia Variana (Vokal Latar/Bass) dan Adi Reza (Drum). Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam prosesnya hingga mengharuskan mereka untuk berhibernasi dalam sebuah rumah untuk fokus dengan kualitas materi yang disuguhkan pada pendengarnya. Setelah resmi merilis album penuh pertamanya, Heals pun langsung disibukan dengan kegiatan tur promo album yang dimulai pada tanggal 13 April- 01 Mei, bertajuk Heals Spectrum Java-Bali Tour 2017.
BACA JUGA - Reportase: Time For Skunx Regenerasikan Kembali Musik Ska Punk
Apa yang menyebabkan keterlambatan Heals dalam merilis album pertamanya?
Kalau kenapa terbilang lama, karena proses kreatifnya sendiri yang buat album ini terbilang lama dirilis. Waktu itu kita sempat merasa belum terlalu enak dijadikan sebuah lagu, jadi lamanya di proses kreatifnya bukan dari segi mixing atau rekaman tapi proses kreatifnya. Tambah lagi, kita juga ngegarapnya juga santai dan nggak terlalu terburu-buru kayak ngejar target.
Lantas apa saja yang kalian lalui dalam proses kreatif album Spectrum ini sendiri ?
Jadi waktu proses kreatif, kita menyewa sebuah rumah sewaan yang tujuannya untuk buat kita fokus dalam pembuatan materi selama dua bulanan. Jadi didalam rumah itu, kita bawa semua alat-alat musik dan kita mulai garap materi sampai benar-benar nemuin lagu yang cocok ya dirumah itu. Waktu penggarapan materi yang kita habiskan di rumah itu bisa dibilang nggak setiap hari banget, prosesnya berskala lah.
Kemasan musik Heals lebih condong pada aliran shoegaze, nuansa shoegaze seperti apa yang kalian hadirkan ?
Sebenarnya kita memainkan musik yang keluar dari otak kita aja, entah itu shoegaze atau apa. Sebenarnya nggak shoegaze, kita ingin mainin musik stoner misalkan. Nah, aliran Stoner itu kita kasih bumbu Shoegaze, lebih seperti itu sih. Karena pada saat proses penggarapan materi di album Spectrum ini, kita banyak dengerinnya band Shoegaze kayak Luminos Orange, Tokyo Shoegazer dan yang pasti My Bloody Valentine, terus Amusement Parks On Fire, dan My Vitriol. Jadi Shoegaze yang kami hadirkan, itu karena kami terinspirasi dari musik Shoegaze yang bernuanasa ngawang-ngawang aja, tapi pada intinnya kami mainin musik apa aja. Dan sangat mungkin kedepannya untuk berubah.
Analogi seperti apa mengenai Spectrum, hingga akhirnya menjadi judul untuk debut album penuh pertama kalian ?
Jadi analoginya album Spectrum ini banyak yang terlibat dalam proses pembuatannya, yang diibaratkan banyak warna dan menghasilkan suatu biasan cahaya dari sebuah prisma, yang cahaya tersebut adalah album Spectrum ini. Ya, nggak jauh berbeda dengan makna asli Spectrum itu sendiri yang artinya adalah biasan cahaya. Konsep biasan cahaya di album Spectrum, ini serupa dengan album Pink Floyd sih yang judulnya Dark Side Of The Moon. Terus, kalau untuk lagunya digeneralisir tentang imajinasi salah satunya ada, tapi lebih pada sosial kehidupan sih tapi dikemas lebih fantasy dan surreal aja.
Kemarin kalian sudah melakukan tur untuk promo album Spectrum, apa saja yang dirasakan oleh Heals kala itu ?
Near Of Experince ya, yang pertama kali kita rasakan itu. Kayak kemarin aja pas balik dari Cirebon ke Bandung cuma dua jam 40 menit, yang seharusnya memakan waktu lima jam lebih. Kalau untuk panggung-panggun selama tur kemarin antusiasmenya menarik banget dan nggak nyangka kita juga diluar kota ternyata ada yang antusias banget sama kita. Tapi yang paling berkesan bagi kita pas sudah beres tiga kota awal tour Spectrum, Semarang sih. Kalau Semarang, dari penontonnya seru terus Congyang nya juga seru.
Comments (1)