Iksan Skuter dan Balakosa; Sebuah Perjalanan Spiritual dan Introspeksi
Dari sekian banyak kota yang ia singgahi, tentu banyak hal baru yang ia temukan, misalnya perjalanan ke Timor Leste. Adalah hal yang luar biasa ketika lagunya didengar di sana, yang ia amini berkat fasenya hidup di zaman teknologi yang mana teknologi sudah menembus sekat teritori, peradaban, wilayah dan sekat apapun. Undangan ke Timor Leste diawali dari ajakan seorang kawan untuk berkunjung ke sana, andai kata bisa masuk dalam agenda turnya.
"Saya sebagai performer ada tanggung jawab untuk menghibur, membuat orang yang sedih jadi senang, tapi rasanya tuh, janc*k, kau sedang sedih!"
Ia rasa itu adalah pengalaman menarik, ia ingin bersilaturahmi karya terutama dengan musisi-musisi Timor Leste. "Gayung bersambut, saya mengurus paspor dan lain-lain, hadir lah di sana, dan ternyata orang-orang di sana, di luar dugaan, tahu lagu-lagu saya, dan mereka bernyanyi dengan emosi! Mungkin lagu saya menginspirasi mereka dan membuat saya takut sekali," ceritanya sambil tertawa. Yang membuat ini jadi makin berkesan adalah terselenggaranya Tur Balakosa di Timor Leste bertepatan dengan 20 tahun referendum Timor Leste, dua dekade setelah mereka merdeka dari Indonesia.
Ia juga lalu bercerita ketika ia singgah ke Kota Palu, setahun setelah peristiwa besar melanda kota di Sulawesi Tengah itu. "Saya sebagai performer ada tanggung jawab untuk menghibur, membuat orang yang sedih jadi senang, tapi rasanya tuh, janc*k, kau sedang sedih! Meskipun mereka bilang, "Kita sudah bangkit, Mas," tapi ada naluri yang berkata aku gak tega, aku tetap berempati."
Comments (0)