Indorock, Rock’n’Roll Biru-Hitam

Indorock, Rock’n’Roll Biru-Hitam

by: Bobby Agung Prasetyo

 

Pada tahun 1958, skena rock ‘n roll di Belanda mulai diambil alih oleh anak muda, sesuatu yang sebenarnya sudah terjadi sejak beberapa tahun sebelumnya di negara-negara Eropa lainnya. Jika sebelumnya musik rock dimainkan oleh kalangan tua yang biasanya tampil solo atau hanya kelompok vokal yang lebih “santun” dan hanya merekam lagu-lagu versi gubahan dari lagu Amerika yang sudah dikenal maka kali ini musik rock didominasi oleh band-band anak muda yang sanggup menggubah lagu ciptaannya sendiri.

Scene musik yang waktu itu berkembang terutama rock ‘n roll “putih” orang Belanda asli dan rock ‘n roll “biru/hitam” yang diusung oleh orang Indonesia yang tinggal di Belanda (“Indorock”), serta satu scene yang tidak sebesar dua scene tadi, yaitu rock ‘n roll yang dibawakan oleh orang Suriname di Belanda (“Surirock”). Dari semua itu, skena Indorock-lah yang paling banyak peminatnya, dan The Tielman Brothers adalah band rock ‘n roll anak muda Belanda pertama yang mencicipi dapur rekaman, sekaligus menjadi band rock ‘n roll pertama yang membawakan komposisi lagu mereka sendiri.

Migrasinya The Tielman Brothers ke Negeri Kincir Angin, bukan tanpa alasan. Selain karena “musikalitas profesional” ini, ada alasan lain yang tidak kalah penting. Orang-orang Maluku, terutama eks-KNIL (dan keturunannya), apa lagi sejak pengakuan internasional terhadap kemerdekaan Indonesia, berada di posisi yang “tidak nyaman” di negeri ini. Sejak akhir abad ke-19, banyak laki-laki Maluku, terutama yang beragama Kristen, menjadi anggota KNIL yang mengabdi pada Kerajaan Belanda. Hal ini memang merupakan bagian dari politik divide et impera (baca : Politik Adu Domba) kolonial Belanda, apalagi sudah sejak lama disadari oleh pemerintah Belanda bahwa agama dapat dijadikan salah satu strategi efektif untuk meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap kolonial. Singkat kata, mereka dianggap pengkhianat tanah air, lantas memilih untuk berpindah negara.

Kisah mereka hampir mirip dengan kisah eksodus kaum kulit hitam dari Hindia Barat ke Inggris pada kisaran waktu yang sama, ketika sejarah hidup mereka justru sanggup melahirkan sebuah subkultur baru. Dick Hedbige (1979) pernah menuliskan bagaimana para pendatang yang “kecewa” ini mulai merasakan perpaduan aneh dari berbagai motivasi yang bertentangan: perasaan putus asa atau setidaknya tidak sabar dengan kondisi negeri asal mereka, kepercayaan akan aksi mereka, hasrat akan perbaikan status; sekaligus keyakinan bahwa Ibu Pertiwi akan memenuhi kewajibannya, merelakan sekaligus “menghukum” anak-anak negerinya yang hilang. Mereka mulai berkumpul, “kekecewaan” pun siap diekspresikan.

*diolah dari berbagai sumber

foto: istimewa

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner