Interview: Menguak Kisah Lamebrain, Terbaru dan Terdahulu

Interview: Menguak Kisah Lamebrain, Terbaru dan Terdahulu

Ada apa dengan label kalian sebelumnya?
Alan: Sebenarnya antara dua pihak ini, baik Lamebrain atau Dermaga Records, bisa dibilang sama-sama baru mulai. Cuma, mungkin karena ekspektasinya dari kami bakal kayak yang di idam-idamkan oleh sebuah band ketika bersinggungan dengan label, ternyata jauh dari yang kami harapkan. Keluar dari keluar dari jalurnya itu kita salahkan ke label. Kayak bisa dibilang, secara sepihak terutama dari kami, kayak "anjing lah!". Tapi, dari saya pribadi pingin ngucapin makasih juga ke label itu, karena saya dan Lamebrain jadi punya pengalaman. Biar bisa termotivasi sendiri, keadaan yang ada itu perlu dijalanin. Kayak zaman sekarang aja, kalau dulu rekaman harus pake pita dan studi yang besar, sekarang pakai aplikasi Premiere Pro aja udah bisa, dan bisa dipasang di handphone. Semuanya udah cenderung dipermudah lah. Kami jadi sadar teknologi juga, lihat apa yang bisa dipakai, dan gerak sendiri walau tanpa label. Paling mungkin distribusi nyari siapa. Tapi kalau misalnya dari nol, materi sampai produksi CD itu kami sendiri.

Siapa aja rooster Dermaga Records waktu itu?
Alan: Heast, terus El Gringo kalau nggak salah.
Prama: Terus ada Moiss, sama Heals. Seingat saya, tiga rooster awal label itu adalah Heals, Heast, sama Lamebrain.

Maksudnya terburu-buru tadi tuh gimana?
Alan : Kayak gini, waktu kami udah nemuin riff, kami langsung rekaman minggu depan. Euforia juga kan karena mau rekaman, terus rasanya sudah bagus. Ternyata nggak kayak gitu. Kalau hidup di tahun '60an mungkin bisa seperti itu, tapi kalau untuk tahun 2015 nggak bisa kayak gitu. Kalau misalkan kekonyolan itu nggak ada, kami nggak bakalan ada tiang yang kuat untuk bisa berdiri sendiri, ya berkaca lagi pada pengalaman saat sama label dulu. Kayak kemarin pas kaset kami rilis. Masing-masing dari personil Lamebrain pegang 5 copies, termasuk manajer kami. Dari situ, kami pikir bagaimana caranya menjual ke konsumen dengan cara sendiri, lebih tepatnya menjual karya sendiri ke orang tanpa bantuan label atau segala macam.
Prama: Kayak "siapa yang mau beli kaset?". Karena itu, kami sering ketemu konsumen dan jadi tahu siapa aja yang beli kaset seharga 35 ribu itu.

Berarti, untuk album pun nanti masih tanpa label?
Alan: Kalau untuk produksi kami masih sendiri dulu. Tapi, kalau untuk distribusi mungkin bakal kerjasama sama siapa lah.

Tentang album yang bakal kalian rilis. Ada benang merah nggak di album itu?
Mufti: Ada. Misalkan ada satu lagu nih, itu tema satu. Lagu yang lain juga gitu, ada tema yang diangkat di bagian-bagian tertentu. Akhirnya, itu semua nyambung ngomongin ending. Konsepnya sampai ke situ sih, cuma kami belum nentuin tema keseluruhannya itu apa. Tapi, kalau dibilang nyambung mah, ya nyambung.
Alan: Ya, semuanya ada flow-nya. Misalnya permasalahan muncul, terus di track ke berapa itu jadi solusinya. Kurang lebih seperti itu.

Ada fitur unik nggak di album pertama kalian ntar?
Alan: Ada. Rencananya, untuk jangka panjang kami bakal merilis CD album pertama beserta dengan bundle pack yang berisi proses penggarapan artwork itu kayak gimana. Dokumenter gitu lah, tapi dalam bentuk booklet, yang sekaligus menaikkan nama yang bikin artwork-nya, Aditama bagian grafis dan Aldiansyah bagian fotografi. Jadi, booklet ini jadi portofolio mereka berdua juga. Kami kasih modal bikin booklet ini, dan sebagai royaltinya semua keuntungan buat Aldi dan Aditama. Tapi kami bakal keluarinnya nggak pas album pertama rilis, tapi beberapa waktu setelahnya.

BACA JUGA - DCDC Substereo: Musik Lamebrain Membawa Klimaks tiap Telinga

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner