Interview: Menguak Kisah Lamebrain, Terbaru dan Terdahulu
Ternyata, ada kisah yang kurang menyenangkan dalam perjalanan musik Lamebrain sejak materi awal dirilis.
Kota Bandung memang diisi oleh banyak musisi bertalenta. Kalimat itu tidak hanya berlaku untuk para musisi senior, karena pada nyatanya musisi generasi sekarang pun berani menunjukkan diferensiasi dengan pertanggungjawaban yang juga mumpuni. Mari mengerucut dan bicara tentang grup musik Lamebrain. Mereka muncul di tengah menjamurnya musik rock-blues dan semakin mengukuhkan pijakannya. Hal itu terlihat dari produktivitas mereka yang tak mengendor, contohnya dengan dirilisnya sebuah single berjudul “Repulse” dengan kemasan yang baru, dibandingkan versi sebelumnya. Selain itu, pada helatan Records Store Day (RSD) 2017 lalu, Lamebrain juga merilis kaset pita yang diisi dua buah lagu.
Namun, di balik kisah produktivitas Lamebrain, mereka sempat mengalami pengalaman buruk, tepatnya dua tahun sebelum kaset tersebut dirilis. Saat itu, debut mini album Lamebrain dilepaskan secara meluas oleh Dermaga Records. Kemudian, mereka harus menelan ludah ketika label yang menaungi mereka kini lenyap, entah berada di mana, dengan nasib yang seperti apa. Tentu, Alan (vokal & gitar), Mufti (bass) dan Prama (drum) kecewa karena kejadian tersebut. Tetapi, alih-alih terpuruk, mereka menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran agar lebih berhati-hati, dan mereka tetap berkarya setelah kejadian tersebut terjadi.
Inilah wawancara yang dilakukan antara pihak DCDC dan Lamebrain.
Dalam single "Repulse", sebenarnya Lamebrain sedang membicarakan tentang apa?
Alan: Hal konyol sih. Beberapa waktu lalu, saya mau memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM) ke kantor polisi. Sebenarnya, SIM saya habis tanggal 25 November 2016. Pada saat saya datang, saya bilang, "Pak, saya mau perpanjang SIM", terus kata bapak aparatnya, "habisnya kapan?", lalu saya jawab sesuai tanggal habisnya. Lalu, dia bilang, "ya udah, tanggal 25 aja datangnya!", dengan alasan kartunya terbatas. Padahal, saya datang tanggal 20, maksudnya gak terlalu jauh sama tanggal 25 itu. Hal-hal yang tampak sepele kayak gitu adalah kekonyolan yang saya ceritakan di lagu "Repulse" ini. Sebenarnya, nggak hal itu doang, banyak banget hal konyol lainnya yang saya masukkan di lagu ini.
Lalu untuk proses kreatifnya bagaimana ?
Prama: Kalau yang di RSD kemarin, kami kan masukin dua lagu aja, salah satunya “Repulse” itu. Sebelum rilis di kaset, lagu “Repulse” itu kami rekam ulang. Prosesnya juga beda kalau dibandingkan pas kami rilis EP. Kalau waktu EP dulu, itu cepat banget, kayak masih baru. Tapi, kalau untuk sekarang lebih santai, kayak di rumah Alan kita merekamnya pakai software, dan jadi diuliknya benar-benar tiap hari. Dari warna musiknya juga beda. Kalau yang dulu masih ada unsur-unsur blues, kalau sekarang kayaknya udah nggak ada sama sekali, lebih ke rock yang universal.
Eksplorasinya kemana aja?
Prama: Itu tadi, awalnya dari rumah Alan yang di sana ada software. Jadi, udah bisa merekam kayak teknik home recording gitu. Kebanyakan materi juga berawal dari Alan, dari gitar, terus masuk ke instrumen lain, dan nanti diolah bareng-bareng. Udah gitu bahas konsep dan lirik yang mau dibuat seperti apa. Kami lebih berhati-hati lah karena kejadian kemarin.
Memang kenapa yang kemarin?
Prama: Yang kemarin itu prosesnya cepat banget, kayak setahun kurang udah jadi EP. Ya... Buru-buru juga, sih. Setelah dapat pembelajaran tentang label atau records kami dulu itu, sekarang kami lebih hati-hati.
Comments (0)