Jikunsprain: “Kami Memang Band Militan!”
Benar, Jikunsprain ini awalnya proyek musik solo dari Jikun?
"Iya, dulunya. Tapi sekarang udah full band."
Sejak kapan formasi itu berubah?
"Kalau formasi ini sebenarnya mulai terbentuk tahun 2015 akhir. Tahun 2009 pun sempat bikin format band, tapi instrumental dan nggak ada vokal sama sekali. Orang melihatnya kayak bukan sebuah band, hanya instrumental aja, kalau nggak bass ya gitar. Nah, pas album ketiga ini: Bertuhan Dengan Marah, baru Jikunsprain pakai formasi full band yang ada vokalnya. Sebelum album ini, kami pernah rilis dua album, Self-Titled (2008) dan Sprained (2009). Tapi ya itu tadi, di tahun itu kami masih instrumental."
Ada patokan tersendiri nggak instrumental yang dimainin lewat dua album pertama Jikunsprain?
"Wah, itu nggak ada patokan ya. Saya (Jikun/gitar) dan Oktav (bass) waktu diskusi dengan formasi lama itu kayak pola main aja. Awalnya intro, selanjutnya kayak gimana itu hanya dari instrumen gitar, bass, dan drum. Kalau ngomongin patokan atau influence, nggak ada influence tertentu. Waktu formasi itu, kami nggak banyak masukin unsur teknikal yang njelimet atau banyak lead melody, cuma komposisinya aja yang kami mainin. Kayak gini lah, layaknya orang nyanyi tapi suara dan penyanyinya itu adalah gitar. Jadi, bukan membabi buta denga teknik."
Berarti album ketiga ini identitas baru Jikunsprain?
"Iya, seperti itu kira-kira."
Proses transisinya sulit nggak dari instrumental ke format full band sekarang?
"Nggak sih. Jadi, dari awal terbentuk, terutama saya (Jikun) dengan mudah mengkomunikasikan dengan personil lainnya. Beberapa tahap kita lewatin. Misalnya, di awal kami mau bikin lagunya seperti ini, kami godok materinya di studio, bikin workshop, lalu rekaman. Tapi, juga ada sulitnya, susun jadwal masing-masing personil untuk ketemu. Memang harus ada satu atau dua hari mengkosongkan jadwal mereka untuk Jikunsprain. Pas ketemu, kami langsung bikin materi, besoknya direkam, besoknya lagi break dulu, dan balik lagi ke jadwal mereka masing-masing. Alhamdulillah, selesai juga dan jadi album ketiga Jikunsprain."
Itu berdampak pada jeda perilisan album ketiga?
"Iya, karena kesibukan personil. Ketika album kedua keluar, kami manggung sampai 2010 atau 2011 awal. Setelah itu, jadwalnya Edane dan /rif padat, jadi dilepasin dulu proyek Jikunsprain ini. Tahun 2015, baru kepikiran pingin bikin lagi proyek ini, tapi lebih baik dari yang dulu, salah satunya format band ini."
Khususnya untuk album ketiga ini, ada benang merah khusus nggak, misalkan tema atau cerita di luar musikalitas materi?
"Benang merahnya ada, bahwa kekuasaan itu tidak memandang apapun dan menyeret apapun, dan kita sebagai manusia hanya menjadi korban, baik korban dari kekuasaan seseorang, atau keinginan dan nafsu seseorang. Hal-hal seperti itu yang coba saya angkat di album ketiga ini. Sebenarnya kalau untuk perihal tema, saya lebih mengacu pada perihal politik. Karena, kalau ngomongin cinta nggak mungkin (tertawa). Untuk band metal era sekarang, kalau nggak ngomongin drugs biasanya itu politik. Semakin dewasa dalam bermusik, hal itu lebih mudah. Kalau bagi saya (Jikun) pribadi, tema-tema urakan udah lewat masanya, apalagi ngomongin soal pesta segala macam gitu, kurang kena aja rasanya. Apalagi, dengan unsur musik yang kita mainin sekarang. Ada unsur Black Sabbathnya, ada heavy metal. Nah, yang cocok ya memang politik."
Comments (0)