Keberagaman Bentuk Rilisan Fisik Karya Dari Musisi
Pada dasarnya tiga rilisan fisik yang digunakan saat ini memang ada tiga, tapi jenisnya cukup beragam.
Sistemasi penyebaran karya musik dari sebuah proyek musik, kini telah berkembang dan memilih format digital sebagai efiesiensinya. Berbeda dengan era 90 sampai 2000-an awal, sistemasi penyebaran karya musik dulunya masih kerap menggunakan rilisan fisik dan merilisnya dalam jumlah cukup banyak. Tapi, belakangan ini, beberapa musisi kembali menggunakan format fisik semacam CD, kaset pita atau piringan hitam dengan jumlah yang sangat terbatas duntuk disuguhkan kepada konsumen, yang disatu sisi peran digital tak luput mereka lupakan.
Mungkin, sedikit ada yang tahu bahwa rilisan fisik itu selain tiga format yang disebutkan, tak melulu adalah sebuah rilisan album atau mini album. Cakupan rilisan fisik tak cuma sebatas itu saja, masih ada beberapa jenis format fisik yang harus diketahui. Pada awalnya jenis-jenis ini punya tujuannya masing-masing dari musisi, yang kesemuanya adalah bentuk penyebaran seperti yang keberadaan karya musik format digital saat ini. Dan berikut jenis-jenis dari rilisan fisik.
[pagebreak]
Demo
Sebelum melakukan mixing dan mastering secara sempurna, musisi kerap merilis format demo yang ditujukan kepada label-label. Biasanya yang melakukan metoda merilis demo, adalah musisi baru dan biasanya juga rilisan satu ini dibentuk dalam format kaset pita. Namun, belakangan ini format demo malah beralih fungsi, yang mana baik musisi atau label malah menjual selayaknya album penuh atau mini album ke konsumen.
[pagebreak]
Single
Pada awalnya, peran karya single masih belum jauh seperti sekarang. Tak lain dan tak bukan adalah bentuk upaya dari musisi menjembatani ada pemicu untuk kemunculan album penuh atau EP mereka. Rilisan ini pula dulunya diupayakan oleh musisi untuk mengirim ke beberapa kanal radio, dan media cetak untuk dipublikasikan secara meluas kepada penikmat musik, yang didalam rilisannya hanya berisi satu atau dua lagu.
[pagebreak]
Kompilasi
Kurangnya swasembada referensi musik sebelum adanya peran internet, album kompilasi kerap dijadikan referensi oleh segelintir penikmat musik. Dalam album kompilasi, konsumen bisa dapat menemui berbagai musisi dengan benang merah serupa, tapi tak melulu seperti itu. Juga ada beberapa kompilasi yang campur aduk warna musik didalamnya, biasanya album-album band indie banyak yang melakuannya.
[pagebreak]
Split album
Jika album kompilasi terdapat berbagai grup musik dengan keberagaman genre musiknya, beda halnya dengan split album. Biasanya jenis rilisan fisik ini berisikan 2 – 3 band saja, lebih seringnya 2 tapi dengan warna musik saling bertabrakan. Tapi juga ada yang satu benang merah.
[pagebreak]
Live
Untuk jenis fisik yang satu ini, biasanya orang banyak mengira ini adalah album atau mini album, padahal bukan. Album live adalah rekaman live dari musisi, baik itu kala di atas panggung atau memang sengaja direkam live. Sesuai dengan tajuknya, Live hasil yang dikeluarkan pun tak jauh berbeda ketika menonton musisi tersebut ketika perform, bukan yang tersusun rapi dari rekaman dalam studio musik.
[pagebreak]
Tribute album
Sebagai bentuk kontribusi kepada musisi yang telah membuat karya cukup baik dan inspiratif, tajuk tribute dipilih dan juga dirilis dalam format fisik. Biasanya, dalam kontribusi ini pula segelintir grup musik/musisi mengkover ulang karya musisi yang ingin dibuatkan tribute. Dan tak tanggung-tanggung jumlah musisi yang terlibat bisa lebih dari 10 atau 20.
Sumber foto : HDWallsBox
Comments (0)