Kedekatan Musisi Dengan Instrumen Musik Miliknya
Intensitas yang terjalin antara musisi dan instrumen musiknya bisa disebut sangat erat, dengan sejarah panjang si musisi dan instrumen musik yang dipegangnya
Sebuah alat musik adalah perpanjangan tangan dari musisi dalam menyampaikan karyanya. Intensitas yang terjalin antara musisi dan instrumen musiknya bisa disebut sangat erat, apalagi jika mengarahkan ini pada ranah romantisme, atau hal-hal yang berkaitan dengan sejarah panjang antara si musisi dan instrumen musik yang dipegangnya. Karena hal itu, beberapa musisi menamai alat musiknya dengan berbagai julukan, seperti misalnya si Hitam atau si Putih, yang diambil dari warna alat musik tersebut. Namun, ada juga yang menamai alat musiknya dengan sebuah nama, yang mungkin didasari dari nilai-nilai filosofis tertentu, atau bisa juga karena karakter yang alat musik itu miliki.
Ada nama Leilani Hermiasih, atau dikenal dengan nama panggung Frau. Penyanyi, pianis, dan penulis lagu ini punya intensitas menarik antara dia dan pianonya yang dia beri nama Oskar. Piano digital Roland RD700SX buatan 1990-an bernama Oskar ini, menemani dia belajar bermain piano sejak kelas 1 SD. Sampai akhirnya dia merekam lagu di kamarnya dengan alat sederhana, berupa komputer jinjing yang dia beri nama Amelie. Kemudian lagu-lagu yang dia buat diunggah di MySpace dan mendapat sambutan hangat dari banyak orang yang mengapresiasi karyanya dengan baik.

Frau
Hingga sekarang, setiap kali Frau tampil dia seperti tidak bisa dipisahkan dengan pianonya yang bernama Oskar ini. Dari panggung ke panggung yang melibatkan Frau sebagai pengisi acaranya, dia dan Oskar seakan bersinergi menghasilkan lagu-lagu apik, yang lahir dari hasil interaksi hati antara dia dan pianonya, Oskar.
Lain dengan Frau, lain pula dengan (alm) Eben, gitaris dari grup musik cadas Burgerkill. Dia juga mempunyai julukan untuk gitarnya, dua gitar Gibson SG miliknya tersebut dia beri nama Si Jagur dan Si Bedil. Rentetan riff ‘berbahaya’ dalam lagu-lagu Burgerkill lahir dari hasil kolaborasi dia dengan Si Jagur dan Si Bedil. Tentang si Bedil sendiri, menarik untuk disimak ketika gitar ini pernah juga dipakai oleh Robin Malau (ex-gitaris Puppen). Ketika itu, Robin ikut berkolaborasi bersama Burgerkill mengisi bagian gitar di lagu “Atur Aku” di salah satu panggung yang melibatkan Burgerkill didalamnya. Lagu milik Puppen ini sukses didaur ulang oleh Burgerkill.

Eben 'Burgerkill'
Dengan kehadiran Robin di atas panggung membawakan kembali lagu itu bersama Burgerkill, ada semacam romantisme tersendiri kala lagu ciptaannya kembali disajikan, namun kali ini dengan suguhan berbeda ala Burgerkill. Kehadiran Si Bedil, gitar Eben yang menemani Robin bernostalgia dengan lagunya jadi semacam jembatan tersendiri, kala lagu “Atur Aku” jadi estafet era Puppen sampai Burgerkill, yang mampu menciptakan hal-hal monumental dan membekas, lewat raungan riff gitar dancey nan menohok di lagu ini.
Menggaris bawahi penamaan si bedil (pistol dalam bahasa Indonesia-red) pada gitarnya ini semakin menegaskan ketertarikan Eben pada senjata api ini. Hal ini terbukti dengan aksi panggung Eben yang kerap memperagakan seperti sedang memburu sesuatu dengan gitar yang seolah-olah pistol/machine gun ini. Selain itu, logo terkenal dari Burgerkill pun menyertakan artwork pistol yang diolah sedemikian rupa hingga menyerupai tengkorak.

Logo Burgerkill
Dengan segala kerendahan hati dan tanpa bermaksud sok tahu, sepertinya secara filosofis arti pistol dari artwork tersebut sejalan pula dengan karakter Burgerkill yang straight to the point, membidik tanpa kenal ampun pendengarnya. Hujan peluru yang mereka lesatkan langsung bisa mengenai titik sasaran secara ampuh. Coklatfriends punya tambahan lain tentang kedekatan musisi dan alat musiknya? Tambahkan di kolom komentar ya.
Comments (0)