Ketika Musik Bambu Mampu Menggetarkan Pasar

Ketika Musik Bambu Mampu Menggetarkan Pasar

Sebagiamana nama bandnya, kekayaan nada Paberik Bamboe tidak hanya sebatas instrumen band semata, termasuk komposisi lagu “Kumbang Blonde”, yang digubah komposer Raden Bangun Nurraga. EDM ‘versi Paberik Bamboe’ ini juga melibatkan beragam alat musik tradisional Nusantara, khususnya Jawa Barat. Analoginya, jika suatu grup orkestra punya sederet brass, flute, hingga strings, maka Paberik Bamboe punya tiga set gambang bambu, dan satu set angklung takol (cara memainkan keempatnya mirip xylophone). Belum lagi sebuah alat tiup tradisional turut menghiasi lagu ini, tarompet Subang (Sunda). Di sesi ritmis, set drum tidak berdecak sendirian di lagu ini. Ada satu set kendang Sunda yang turut menemaninya berdendang.

Herannya, paket lengkap kolaborasi ini justru tak lantas membuat lagu “Kumbang Blonde” terdengar rumit, asing, atau bahkan tumpang tindih. “Dari sekian banyak instrumen yang Paberik Bamboe punya, lagu ini seakan berhasil membuktikan, bahwa karya dari big-band tidak serumit yang banyak orang kira. Bahkan sebaliknya, lagu “Kumbang Blonde” justru selalu berhasil mengeluarkan energi terbaik anak-anak,” aku sang manajer Mushofi ‘Abay’ Akbar.

Repertoar lagu “Kumbang Blonde” berisi aneka ragam elemen. Bagian synth dan techno-squencer merupakan kreasi Ghanil ‘Aceng’ Fuady, multi-synth player yang berjasa besar membuat atmosfir intro terdengar layaknya musik industrial core – penggemar band sejenis Korn dan Ramsstein pasti familiar dengan nuansa ini. Selain itu, ritme utama lagu diisi pola kotekan (unsur musik tradisional Bali), yang merupakan hasil kerja sama kuartet Raden Bangun Nurraga (gambang bambu), Robby ‘Ize’ Purnama (gambang bambu), Ramdhan ‘Momoy’ Mustofani (gambang bambu), dan Satria Mulya (angklung-takol).

View Comments (1)

Comments (1)

  • ojannf
    ojannf
    28 Dec 2017
    Mantapppp
You must be logged in to comment.
Load More

spinner