Ketika Saratuspersen Membawakan ‘Gunung’ dan ‘Keraton’ ke Kamar Tidurmu
Saratuspersen turut mencoba melukiskan potret atmosfir dan nuansa ala perkampungan di Nusantara melalui genre multi-etniknya yang relatif lebih modern dan sarat eksplorasi
Beberapa karya mereka seolah mendeskripsikan karakter orang-orang desa di Indonesia, yang memiliki jiwa kebersamaan, kelembutan, cinta damai, ramah, santun, namun di satu sisi bisa menjadi sangat enerjik. Keras sekaligus puitis.
Nomor-nomor yang saya garisbawahi dari album “The Sound of Orang Kampung” ini mencoba merangkul berbagai genre non-jazz untuk menjalin sebuah fusion dengan akulturasi musikalitas ala mereka. Melawan sebuah stigma yang sudah terlebih dahulu muncul di era modern belantika musik Indonesia: bahwa musik etnik Nusantara sulit berakulturasi dengan banyak atmosfir musik.
Simak tembang berjudul “The Earth” yang melambaikan pesan-pesan tersirat tentang alam Nusantara dari dua sisi. Instrumentasi gamelan yang mengalun dengan tempo pelan namun sarat aksen-aksen emosional, seakan mengisyaratkan keindahan pesona alam khas Indonesia yang subur ini. Namun jika ditilik, permainan bass dan suling pada lagu tersebut justru menghasilkan nada-nada lirih yang menyimbolkan sebuah kegundahan. Seolah memberi ambiguitas tersendiri akan keadaan Bumi – juga Indonesia; yang saat ini keadaannya sedang berada di ambang dua kondisi: indah tapi rusak; bahwa ternyata masih terus ada ‘keindahan yang rusak’ – dan ada juga ‘kerusakan yang indah’ di tanah air kita ini.
Saratuspersen juga menyuguhkan suasana relaxing melalui tembang berjudul “The Gone of Nyi Roro Kidul”. Lagu ini menawarkan atmosfir ala pedesaan di wilayah pesisir Pantai Selatan Pulau Jawa yang diselimuti permainan gamelan ala Jawa yang bertempo pelan sambil diiringi denting gitar jazzy-bossa, sehingga terasa cocok untuk sebuah suasana lounge. Mungkin saja lagu ini bisa membawa imajinasi kita melompat ke beberapa abad ke belakang. Ke dalam masa-masa di mana daerah selatan Pulau Jawa masih berupa kerajaan, atau ke masa di mana awal terlahirnya kisah legenda Sang Ratu Pantai Selatan yang hingga kini populer dengan aura mistisnya.
Mereka pun menghadirkan sebuah eksperimentasi tonalitas ala Sumatera Utara yang dimainkan oleh seperangkat instrument gamelan Sunda-Bali, melalui tembang berjudul “Brastagi”. Tembang yang menjadi andalan mereka pada album ini sukses menawarkan ‘Batak rasa Nusantara’ – sebuah produk baru hasil akulturasi cross-over yang menonjolkan duet-instrumen etnik Bali: Kantil dan Pamade; terbukti sukses melahirkan laras-laras gamelan yang manis dan hadir secara merata di sepanjang album ini.
Naturalisasi atmosfir ala kampung Melayu pada tembang “Brastagi” ini direalisasikan memasuki menit 02:30 dengan mengedepankan gesekan biola yang syahdu, diiringi beat ala musik rakyat serta dentuman bass-line yang terdengar minimalis tapi bold. Lagu ini diprediksi akan mampu membuat para perantau asal Pulau Sumatera yang berdomisili di Pulau Jawa (atau sebaliknya; perantau asal Pulau Jawa di Pulau Sumatera), menjadi rindu akan kampung halamannya; atau justru malah melahirkan imajinasi baru, bahwa Sumatera atau Jawa atau apapun adalah sama saja – sesuatu yang bisa terasa di mana saja. Karena Nusantara bukan hanya masalah geografis, tapi juga perasaan dan imajinasi.
Sumber Foto : DeMajors
Comments (0)