Ketika Sunda, Perancis, dan Turki Mendesah Intim Selama Tujuh Menit
Pada part intro (bagian yang dipercayai sebagai cover alias wajah dari setiap lagu), terdengar bunyi alat musik (mirip) tarawangsa (alat musik tradisional Sunda; khas Sumedang). Nadanya seperti ingin menggambarkan gurun asri khas film-film Mediteran. Menyusul dentingan gitar, yang malam itu tampaknya sedang kesurupan lengkingan sitar ala Timur Tengah. Rasanya dua bebunyian ini baru mulai saling tatap dari meja yang berseberangan. Masih sepi dan malu-malu, namun nuansa mulai hangat.
Tidak lama, muncul sang pihak ketiga. Bunyinya seperti alat tiup bangsing (khas Sunda). Mengalun di antara dua elemen bunyi sebelumnya, yang lebih tepat disimbolkan sebagai angin sepoi-sepoi yang mendamaikan mereka berdua. Next, tegur sapa pun terjadi. Pedekate antar audio mulai berjalan, lewat sentuhan laras madenda, yang menjadi style lagu ini. Sampai di sini, ada kesan unik bahwa seorang pria Sunda sedang tersasar sendirian di pinggiran Kota Istanbul. Meski dirinya tampak haus, namun rasanya ia lebih lapar akan chemistry (ya, tepat sekali – kesendirian selalu punya daya tawar yang tak habis-habis kala diangkat ke dalam musik).
Di pertengahan lagu, kreativitas inti seorang Jaka PW mulai terlihat. Ia menjadi bukti bahwa musik itu plural terhadap segala konsep. Maka tak heran, bila world-music disebut-sebut mampu menembus batas-batas antropologis musik kekinian. Memasuki menit ke-3 lagu ini, imajinasi musik ini kian hybrid (dan tetap harmonis). Di suatu tempat, sang pria seakan digeledah paspor Sunda-nya, untuk kemudian dipersilakan menikmati makan malam di ruang istana milik Kesultanan Turki. Di sinilah, perundingan bilateral antara Ottoman dan Padjadjaran terjadi.
Di menit ke-4, barulah aksen vokal Luna Silva hadir, seakaan menutup kisah imigrasi dinas sang pria Sunda. Tidak, tidak, Luna tidak nyinden di sini. Sebaliknya, ia seakan bernarasi dengan nada-nada lirih; lengkap dengan French accent-nya yang – hmm, lebih lezat dari French fries. Suara Luna – sebagaimana namanya, seakan menyimbolkan bulan purnama yang menerangi kepulangan sang pria Sunda dari perjalanan rahasianya.
Comments (0)