Ketika Sunda, Perancis, dan Turki Mendesah Intim Selama Tujuh Menit
Mendengar warna-warni atmosfer dan varian genetik jazz di dalamnya, rasanya sah untuk menobatkan singel milik Jaka PW ini sebagai soundtrack syahdu di ‘tujuhperdelapan’ malam.
Salah satu efek “ajaib” dari mendengarkan musik, tak lain adalah kemampuannya dalam menjadikan sepasang kuping manusia sebagai “supir”. Hati manusia pun menjadi “penumpang” sembrono. Ya, sembrono. Sadar tak sadar, dan seringkali hati kita mengeluarkan perintah tak terduga kepada segenap urat syaraf, setiap kita sedang mencerna musik – ya, musik sebagai kendaraannya (bisa sebagai mobil, delman, pesawat, becak, jetcoaster, atau apapun rasa kita menamainya).
Yang pasti, kuping ini seakan tak berdaya – ibarat seorang supir tua yang mengemudikan taksinya dengan liar, karena ditodong pistol dari belakang oleh seorang penumpang mafia misterius, se-misterius cara sistem syaraf kita merespon bunyi. Tak pelak lagi, privasi nan imajinatif menjadi perjalanan antara manusia dan musiknya; menuju dimensi lain. Dampaknya? Pengalaman estetika kita semakin kaya, ibarat turis miliarder yang sukses berkeliling dunia.
Imajinasi yang ditawarkan oleh lagu berikut juga tak kalah kaya. Ya, sekaya diaspora antar pelaku musiknya sendiri. Coba tengok, gitarisnya adalah Jaka Nurdian (nama asli Jaka PW). Pria ini menggandeng gadis penyanyi asal Perancis, Luna Silva (tebakan kami cewek ini masih keturunan Spanyol atau Portugal). Entah mereka berdua sudah pernah ngobrol dengan bahasa apa saja, namun yang pasti bahasa musik mereka kini menelurkan sebuah dialog nada-nada berjudul “Secret Journey”. Sebuah judul yang universal – meski tampaknya tak ada rahasia yang benar-benar universal. Jadi, apa yang kira-kira “Secret Journey” ini coba simbolkan, dan sampaikan melalui nada-nada eksotiknya?
Comments (0)