Kisah Koes Bersaudara Di Penjara Glodok

Kisah Koes Bersaudara Di Penjara Glodok

Pada 29 September 1965 malam, kelompok musik Koes Bersaudara dibebaskan dari penjara Glodok, setelah mendekam selama tiga bulan.

Peristiwa 39 tahun lampau tersebut masih segar dalam ingatan Koesrojo atau Yok Koeswoyo salah satu personel Koes bersaudara. Yok (69 tahun) –pada saat tulisan ini dibuat berusia 62 tahun- mengenang masa-masa di penjara yang penuh tipuan, intimidasi, dan serba kekurangan sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Kalau mau jujur, sebenarnya kami antara siap dan ndak siap masuk penjara waktu itu," kata Yok.

Menurut Yok, sebelum masuk penjara Koes Bersaudara sering bertemu Kolonel Laut Koesno, seorang perwira dari KOTI dalam kaitan konfrontasi dengan Malaysia. "Dari dia kami tahu, kami akan melakukan tugas untuk menunjukkan dunia bahwa ada kelompok yang menentang arus besar pemikiran nasional saat itu yang kekiri-kirian."

Dalam rencana, Koes Bersaudara bahkan akan diselundupkan ke Malaysia untuk melakukan propaganda ini. Namun skenario kemudian berubah setelah mereka diundang pada sebuah pesta di rumah Kolonel Koesno di Jl Djatipetamburan II A pada 24 Juni 1965. Tempat itu diserbu pemuda setempat dan kemudian tersiar luas kabar Koes Bersaudara memainkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok, lagu-lagu The Beatles dan barat populer yang memang dilarang pemerintah.

Empat personel Koes Bersaudara, Tonny, Nomo, Yon dan Yok mulai menjalani tahanan pada Selasa, 29 Juni 1965 di kejaksaan di Jalan Gajah Mada sebelum kemudian dipindah ke penjara Glodok. Lokasinya sekarang sekitar Harco. "Saat itu, hingga kami dibebaskan pada 29 September, kami tidak pernah bertemu lagi dengan Kolonel Koesno tersebut. Jadi bagaimana kami tidak merasa tertipu?"

Intimidasi awal mereka rasakan saat baru memasuki penjara Glodok. Ketika baru memasuki lorong, mereka disambut tahanan lama dengan koor,
"Tahanan baru ... kompas ... kompas..."

Dalam situasi yang mencekam bagi empat personel itu, mereka mendadak dikejutkan sosok yang sudah lama dikenal Yok. Bambang Sembuto, seorang preman wilayah Pasar Mayestik di kebayoran baru. Sembuto berteriak lebih keras mengatasi suara napi lainnya, "He biarkan masuuk, itu teman-temanku dari Koes Bersaudara."

Menurut Yok, para penghuni penjara Glodok itu kemudian mengubah koor mereka, "Hidup Koes Bersaudara... hidup Koes Bersaudara..." Bagi Yok,"Saat itu kok suara itu kedengarnnya lebih merdu daripada sambutan penonton saat kita manggung, kata Yok terkekeh lagi.

Selama tiga bulan di penjara, empat bersaudara ini mengenal pelbagai karakter penghuni dengan segala bentuk tipu daya. Yang terakhir ini tidak dalam konotasi buruk. Nomo misalnya. Sesuai dengan gayanya yang ugal-ugalan ia pernah ingin mempelajari ilmu kebal dari seorang jawara Banten penghuni penjara.

Oleh Pak Pitang, jawara tersebut, ia diberi bekal sebuah kertas bertuliskan huruf Arab. Pitang kemudian mencobanya dengan menoreh tangan Nomo dan ternyata tidak menimbulkan luka. Nomo yang yakin dengan khasiat jampi tersebut kemduian ingin mempraktikannya di depan saudara-saudaranya. Ia menyundutkan sebatang rokok menyala ke lengannya. Akibatnya sampai sekarang di lengan Nomo terdapat sebuah luka bakar yang tidak dapat hilang.

"Tipuan" lainnya mereka rasakan oleh seorang tahanan keturunan Tionghoa, Tan Siok Gie. Tahanan asal Semarang ini masuk penjara karena membunuh seorang polisi. Ia kerap memasakkan pelbagai jenis masakan Cina dengan campuran sayur-sayuran yang ditanam di depan selnya. "setiapkali ditanya bagaimana bisa bercocok tanam dengan baik dia hanya mesem saja," kata Yok. Belakangan, mereka berempat baru tahu, sawi dan sayuran lain yang enak itu tumbuh subur dengan pupuk kotoran Tan Siong Gie sendiri.

Menjelang keluar dari penjara, mereka sempat mengalami suasana mencekam lagi. "Saat itu terjadi perkelahian massal antara dua kelompok etnis tertentu di penjara Glodok. Begitu mengerikannya sampai tubuh lawan itu dipotong-potong dan cipratan darah merah membasahi dinding penjara."

Koes Bersaudara dibebaskan pada 29 September malam. "Kami dilepaskan begitu saja pada malam hari," kata Yok. Saat itu mereka berempat agak heran karena melihat banyak kendaraan lapis baja berlalu lalang di jalan-jalan ibu kota.

Dengan melewati suasana mencekam itu mereka tiba di rumah mereka di Jalan Mendawai III No. 14 Blok C, Kebajoran Baru. Yok mengaku langsung tidur. Ia tidak pernah menduga, malam hari 30 September kemudian terjadi peristiwa yang mengubah secara total sejarah negeri ini.
(Tjahjo Sasongko)

 

Sumber : Kompas 13 Oktober 2004 (https://www.facebook.com/media/set/?set=a.127217932676.108918.124914792676&type=1)

Foto : http://psyche.music.org

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner