Kupas Tuntas Diferensiasi Dua Artwork Rebirth Of Jatisunda

Artwork adalah sebuah karya seni yang ditumpahkan dalam bentuk yang bermacam-macam. Baik dari media berbentuk lukisan, patung. Selain itu nilai estetika sangat berpengaruh besar terhadap karya seni tersebut. Dalam dunia musik, goresan artwork jadi gimmick tersendiri untuk menarik perhatian para penikmatnya. Salah satunya adalah Jasad, dedengkot brutal death metal ,asal Ujungberung, Bandung ini tak ketinggalan untuk menyertai artwork sebagai pengantar ke-cadasan mereka.
Di akhir tahun 2013 lalu band yang diperkuat oleh Man (vocal), Ferly (gitar), Yuli (bass), danAbaz (drum)mengeluarkan album berjudul “Rebirth Of Jatisunda” melalui dua label berbeda. Pertama melalui label death metal asal Bandung yang dimiliki oleh kakak kandung Man Jasad, Iwan D yakni Extreme Souls Productions. Sedangkan satunya lagi dirilis oleh label independen yang menaungi band-band brutal di Negeri ‘Paman Sam’, Sevared Records.

Dua versi art cover disuguhkan berbeda oleh grup ‘bawah tanah’ legendaris satu ini. Satu hal yang menjadi penting adalah mereka ,tidak meninggalkan karakter akan nilai-nilai dari budaya Sundanya tergurat jelas dalam cover album mereka. menyoal cover album, kami langsung bersua dengan frontman sekaligus vokalis Jasad, Man di hajatan Road To Bhinneka Tunggal Ika Movement 2014, di Padepokan Seni Mayang Sunda, Rabu (12/11) kemarin. Pria bernama lengkap Mohamad Rohman ini membeberkan alasan bandnya merilis dua versi artwork pada sleeve cover album. “Album yang dirilis di Amerika, (artwork) dibuat sama Marco Hansmann (seorang art illustrator dari Italia), itu gambar Gedung Sate lagi disedot matahari serta dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang membawa kujang danular”, jelasnya dengan nilai secara semiotika (pemaknaan simbol-RED) yang dirasanya begitu tajam. Dia pun mengakui kalau saja versi album tersebut dirilis Indonesia berkesan akan menyinggung banyak pihak dengan sinis. Karna dilihat dari aspek historis, bangunan historikal tersebut merupakan kebanggaan warga Jawa Barat, Bandung khususnya.
Untuk versi rilisan Indonesia, album yang terdiri dari 10 track mematikan ini bergambar Garuda Kencana yang berdiri diantara dua bendera merah putih juga digambarkan sama, seolah-olah sedang dihisap oleh matahari serta dikelilingi pasukan. Ditanya mengenai makhluk apa yang terdapat di cover sleeve, Man menjelaskan bahwa sosok tersebut merupakan gambaran para leluhur bangsa terdahulu. “ Kita coba angkat Garuda yang merupakan orang tua dari Jatayu dan juga bendera merah putih maupun matahari itu menggambarkan akan ajaran dari para leluhur”, ujarnya dengan tatapan yang tegas.

Extreme Soul production version

Sevared Records, USA version
Alasan kuat tetap diluncurkannya album yang bergambar Gedung Sate tersebut, agar adanya suatu pembeda dan nilai estetis maupun dalam karya dari “Rebirth Of Jatisunda” tersebut. Ketika dibeli oleh para penikmatnya. “Kebetulan dari Sevared Recordsnya menyediakan art worker (Marco Hansenn), kita tinggal kasih materi lagu sama beberapa lirik untuk dibaca oleh mereka, dan saya memberi keterangan kalo Gedung Sate itu adalah simbol kekuasaan di Jawa Barat, dan Dia (Marco) memvisualisaskan iseperti itu,” ungkap lelaki yang juga Presiden Gaban akronim dari presiden ‘Fiksi’ Garut-Bandung ini.
Harapan Man Jasad terhadap album yang mempunyai dua versi berbeda ini tidak muluk-muluk. Kualitas menjadi nilai utama tersendiri yang jadi pegangan untuk hasil karyanya(musik). ”Saya engga mikirin kuantitas yang penting kualitas, mau album itu didengar cuman 10 orang tapi mereka bisa mengerti maupun memahami konteks dan lirik Jasad dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari (secara positif)”, terangnya dengan begitu antusias.

Oleh: Karel
Foto: Jasad dan http://beholdzallookslike.deviantart.com Docs.
Comments (0)