Lagu Cinta Istimewa Bulan Kedua 2022

Lagu Cinta Istimewa Bulan Kedua 2022

Semuanya bicara cinta. Tapi kenapa dan untuk siapa mereka bicara cinta, itu yang kemudian membuat tiga lagu ini terasa istimewa

Ada hal yang dianggap ‘tabu’ untuk dibicarakan, seperti halnya tentang lagu cinta dan segala macam hal yang berhubungan dengan itu. Beberapa orang bahkan ada yang mati-matian menjaga citra agar tidak dibilang lembek dengan sebutan ‘pria melankolis’. Jika cinta yang dimaksud berbicara tentang ‘bertahan satu C.I.N.T.A’ pada sebuah lagu hasil olahan industri arus utama, mungkin bisa saja kata cinta itu menjadi menggelikan dan mengalami penurunan makna, ketika kata cinta hanya dijadikan kambing hitam atas nama pasar yang mengiba dalam layar kaca. Ketika cinta tidak tersaji jujur, dan dipenuhi pretensi yang justru tidak menggambarkan artian cinta itu sendiri seharusnya seperti apa.

Memangnya bagaimana seharusnya lagu cinta itu tersaji?

Mengurutkan tiga lagu cinta terbaik berikut ini, mungkin bisa memberi sedikit gambaran tentang lagu cinta yang tersaji manis, jujur, apa adanya, sampai kemudian kata cinta itu sendiri kembali pada artian sebenarnya. Ada yang begitu gamblang bercerita tentang cinta dan segala hal menarik dari itu, namun ada juga yang berbicara cinta dari lirik yang tersirat dari apa yang bisa disajikan dalam bentuk sebuah lagu.

Melancolic Bitch – "7 Hari Menuju Semesta"

Sejatinya dalam album mereka yang bertajuk ‘Balada Joni dan Susi’ adalah kumpulan lagu-lagu cinta yang digambarkan sangat bagus, dengan konsep album yang tematik. Menggambarkan tentang kisah cinta dan pelarian Joni dan Susi dari realita, ketika realita tidak berpihak kepada keduanya. Bagaimana ketika mereka saling menghidupi satu sama lain dengan cinta yang mereka miliki. Pun begitu di lagu ini. Lagu dengan padanan lirik yang bagus, dan diimbangi dengan aransemen musik yang catchy, sehingga memudahkan kita yang mendengarnya untuk memberikan gambaran dari apa yang ingin mereka sajikan dalam lagunya.

Ada lirik yang berbunyi “jika aku mati, kau kematian lainnya”, yang adalah semacam satir yang digambarkan dari cinta mereka yang teramat besar satu sama lainnya. Paradoks dari hal yang sebenarnya satu kesatuan yang tarik menarik, ketika Joni berujar “jika aku Israel kau Palestina, jika aku Amerika kau seluruh dunia”. Ada hal yang meskipun itu tergambar berlawanan, namun sebenarnya satu sama lainnya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sampai akhirnya di lagu ini Joni dan Susi dengan cinta mereka mampu pepatkan semesta dan seluruh sisi-sisinya.

Indie Art Wedding – "Cinta Itu Sengit"

Lagu ini adalah kebalikan dari segala macam bentuk lagu cinta yang dipenuhi puja-puji sepasang kekasih yang sedang jatuh hati. Bukannya saling memuji, di lagu ini sepasang kekasih itu malah saling membeberkan apa-apa saja yang mereka tidak sukai dari pasangannya. Ketika sang wanita berujar “aku tak suka kau tak juga berhenti merokok”, yang dibalas oleh si pria dengan kalimat “aku tak suka kamu wek wek wek cerewet”, sampai pada reff nya yang berbunyi “cinta itu sengit, kita tarik menarik”, menggambarkan sepasang kekasih yang ‘seolah-olah’ sedang bertengkar akan apa yang tidak disukai dari pasangannya, namun anehnya bisa tersaji manis dan mengundang senyum.

Duo bentukan Cholil Mahmud sang pentolan band Efek Rumah Kaca, dan istrinya sendiri Irma, menjadikan Duo ini menarik, mengingat Cholil sendiri adalah termasuk dari sekian musisi dengan kemampuan menulis lirik lagu dengan baik (termasuk di lagu ini). Mendengar Indie Art Wedding berarti mendengarkan lagu-lagu cinta yang tersaji menyerupai sebuah dialog sehari-hari, dengan fragmen dan tema yang menarik untuk dinyanyikan. Sama seperti halnya dengan judul album mereka yang bertajuk Hidup Itu Pendek Seni Itu Panjang, yang menerjemahkan hidup dari sudut pandang yang lebih menyenangkan.

Rusa Militan – "Senandung Senja"

Ada yang harus dikesampingkan dari sebuah gengsi ketika mendengarkan lagu ini. Ketika dengan musik dan liriknya yang mampu membuat air mata jatuh begitu saja, mengikuti dentingan gitar dan suara sang vokalis yang sedang bersenandung dikala senja. Lagu yang bercerita tentang cinta dari orang tua seperti ayah atau ibu, membuat siapapun yang mendengarnya ada dalam gambaran bertahun-tahun ke belakang mengingat apa yang oleh orang tua lakukan sebagai bentuk cinta kepada anaknya. Selama air mata itu tidak jatuh untuk orang yang salah, maka biarkan saja itu mengalir sebagai bentuk penghormatan untuk orang yang hanya satu level saja dibawah Tuhan.

Bagaimana mungkin lirik yang berbunyi “canda nada ceritanya tak luput dari telinga dan menggema, mengusik derai duka lara, antarku melawan lelah”, yang diteruskan dengan lirik “berpuluh kali musim lalu tak pernah terdengar keluh di bibirnya, demi harapan yang diam di tepi, hingga nafas terhitung air”, bisa tidak mengundang air mata untuk turun? Dari mulai tergambarnya masa-masa sok hebat khas anak muda, berseberangan dalam sebuah adu argumen panjang, sampai pada akhirnya tidak ada yang harus lebih dicintai selain dari orang yang membuat kita ada dan terlahir di dunia. Rusa Militan dengan lagunya Senandung Senja adalah anthem dari sebuah titik balik karena dan untuk siapa kita terlahir.

Tiga lagu di atas memang lagu lama, tapi rasanya ketiganya mampu mewakili gambaran dari bagaimana seharusnya lagu cinta tersaji tanpa kepura-puraan, jujur, dan untuk siapa lagu cinta itu dibuat. Ketiganya menjadi gambaran ideal bagaimana cinta menemukan bentuknya ketika dihadapkan pada hal-hal dilematis sepasang kekasih di lagu "7 Hari Menuju Semesta", tarik menarik dan saling menuntut dalam debat kecil sepasang suami istri di lagu "Cinta itu Sengit", hingga luapan rasa cinta yang begitu besar untuk orang tua di lagu "Senandung Senja". Semuanya bicara cinta. Tapi kenapa dan untuk siapa mereka bicara cinta, itu yang kemudian membuat tiga lagu ini terasa istimewa. 

BACA JUGA - Kami Butuh Lagu Cinta yang Membakar

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner