Lima Zine Favorit Hernandes Saranela (Bagian Dua)
Saat ini, saya masih menyimpan beberapa zine itu. Tidak banyak, hanya yang terbaik yang bisa saya pertahankan. Pada tahun 2005 saya membuat zine saya sendiri bernama God Not Found (GNF). Berisi artikel mengenai black metal dan simbolisme, serta segelintir interview dengan band black metal lokal. Dari surat yang saya kirimkan kepada 10 band tersohor Indonesia, hanya satu yang membalas; Santet dari Purwokerto. Asumsi saya, pertanyaan yang saya ajukan masih tidak lazim di jaman itu, yang sebenarnya memang saya maksudkan demikian, agaknya menjadi berbeda di mata mereka. Bisa saja mereka memilih tidak membalas karena tidak tahu bagaimana menjawabnya, padahal saya sertakan juga perangko balasannya.
Namun saya tidak berputus asa. Zine itu tetap saya cetak, dengan sedikit kekecewaan. Tidak banyak, hanya sejumlah 50 kopi. Tanpa foto band, tanpa grafis black metal. Sangat membosankan secara tampilan, tetapi berani jamin bahwa GNF penuh wawasan dalam hal isi. Keyakinan ini masih saya percayai hingga sekarang. Zine ini yang kemudian menginspirasi saya untuk membuat versi film dokumentarnya di kemudian hari 'Where Do We Go'.
Ketika suatu hari adik saya meminta ijin untuk bisa bergabung dengan komunitas metal, saya pernah menyarankan, sebaiknya, untuk memasuki dunia metal, alangkah baik seandainya terlebih dulu membaca zine-zine yang saya punya, sebab dari zine-zine punk/HC; nenek moyang segala musik hingar bingar dan yang tersolid inilah, dia akan tahu menempatkan diri secara proporsional. Siapa yang menyangka pada akhirnya, adik saya malah terjun semakin mendalam di ranah punk dan tidak lagi melirik metal seperti yang sebelumnya dia impikan. Bersamanya, kami mempertahankan Demster, band punk berhaluan anarko. Semua karena zine-zine yang kami baca. Semua karena wawasan yang diberikannya.
Comments (0)