Lokananta: Mati Tak Mau, Hidup pun Segan
Berbicara mengenai kesuksesan dalam karir bermuisik sang musisi, tak lepas dari faktor elemen-elemen yang mendukungnya. Dari mulai penggarapan lagu hingga sampai ke telinga masyarakat luas.
Dari sekian banyaknya elemen tersebut, bisa dikatakan bahwa studio musik mempunyai peranan khusus. Dimana para musisi merekam sedemikian rupa karya musik mereka di tempat tersebut sehingga menghasilkan kualitas lagu yang memumpuni.
Sebuah gedung dengan arsitektur klasik tegar berdiri di tempat di Jalan A. Yani 379, Solo, Jawa Tengah. Gedung yang bernama Lokananta ini merupakan tempat bersejarah dalam perkembangan musik tanah air. Lokananta adalah studio rekaman pertama di Indonesia. Tak tanggung-tanggung terdapat koleksi sekitar 40.000 piringan hitam dan 5.000 lagu rekaman dari musik daerah hingga berbagai genre musik moderen, seperti pop, jazz, keroncong, bahkan rekaman pidato-pidato Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno, tersimpan rapih didalamnya.
Berkat rumusan dari R.Maladi yang saat itu menjabat Direktur Jendral RRI (Radio Republik Indonesia), yang kemudian diresmikan Menteri Penerangan, Soedibjo, lahirlah Lokananta di tanggal 29 Oktober 1956. Nama Lokananta itu sendiri diambil dari cerita pewayangan, yang berarti “Gamelan di Kahyangan yang berbunyi tanpa penabuh”.
Awal berdirinya, Lokananta merupakan bagian dari jawatan RRI yang menjalani tugas memproduksi piringan hitam untuk bahan siaran 27 studio RRI di seluruh Indonesia. Dua tahun berselang, tak hanya untuk bahan siaran, piringan hitam tersebut dipasarkan kepada khalayak luas yang diberi label Lokananta. Dari tahun 1961, Lokananta sudah menjadi Perusahaan Negara yang menjadi salah satu cabang Perum Percetakan Negara RI. Dibawah naungan Perum Percetakan Negara RI, tempat yang diproyeksikan sebagai Museum Musik Indonesia ini mempunyai tugas dari recording, music studio, broadcasting, dan printing and publishing.
Tercatat musisi legendaris seperti Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Sam Saimun, Ismail Marzuki, Bubi Chen, Jack Lesmana, dan Idris Sardi pernah rekaman di tempat ini.
Kejayaan Lokananta dan jasanya bagi perkembangan musik di Indonesia nampaknya tak berlaku lagi di jaman sekarang. Mungkin generasi muda saat ini belum mengetahui tempat dan nilai sejarah label rekaman tersebut. Kondisi bangunan seluas 21.500 meter persegi ini pun seakan tak ada perhatian dalam perawatannya. Alternatif lain untuk merawat piringan-piringan hitam, disiasati oleh pegawai Lonakanta menggunakan kopi agar tetap awet di tempat penyimpanannya.
Maka dari itu untuk menghidupkan kembali kemegahan Lokananta dan menghargai jasanya dalam bidang musik, musisi seperti Glen Fredly, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca/Pandai Besi merekam karya musik mereka disini. Selain itu ada berbagai acara agar generasi muda lebih mengenal sepak terjang studio yang penuh dengan nilai dan sisi historis ini, salah satunya Festival Lokananta.
Dimana bertujuan untuk mengenalkan kembali sebuah tempat dimana gedung bersejarah tersebut merupakan titik nol perkembangan musik Indonesia. Sudah sepantasnya, sebagai generasi penerus, kita wajib untuk melestarikan tempat-tempat bersejarah dan melestarikan kebudayaan asli Indonesia. Bung Karno pernah mengatakan, JAS MERAH "jangan sekali-kali melupakan sejarah".
Sumber foto: http://seashoredisco.blogspot.com
Comments (0)