Melalui Underground, Kembali mengenalkan Budaya Sunda
Perkawinan musik metal dan etnik, tiba-tiba saja istilah itu lahir di kota Bandung, ditandai dengan sebuah deklarasi di ajang “Bandung Deathfest” pada 2008. Pada waktu itu, band Jasad merilis single ‘Kujang Rompang’ yang mencampur musik metal dengan sedikit sentuhan musik bambu. Dan pada hari itu juga, lahir komitmen untuk selalu membuat karya yang berkolaborasi dengan alat musik tradisional. Selain Jasad, ada Karinding Attack, dan banyak bermunculan band-band 'bawah tanah' yang mem-blending musik yang mereka bawakan dengan adat budaya masing-masing.
Hal ini, berangkat dari keprihatinan bahwa identitas asli warga sunda semakin tergusur, Jasad dan kawan-kawan menularkan empati yang sama terhadap fans mereka. Tak perlu menunggu lama, fashion seperti baju pangsi dan ikat kepala dari kain batik pun mulai laris seketika. Pembelinya pun masih berasal dari pecinta kalangan budaya sunda, dan tentunya komunitas underground. Dan puncaknya, ketika walikota bandung Ridwan Kamil mewajibkan setiap warganya memakai pangsi dan kebaya setiap hari rabu.
Gustaf Hariman, pengamat sosial dari Common Room Networks Foundation menilai, kegiatan “rebo nyunda” itu lahir dari bibit yang ditebar kaum underground. Dia mengapresiasi kebebasan berpikir dan berkarya pegiat underground, dilampiaskan pada keinginan menunjukkan jatidiri sebagai orang sunda
Sumber : Pikiran rakyar edisi jum’at 15 September 2014
Foto : Istimewa
Comments (0)