Mencari Kebaruan di Tahun yang Baru

Mencari Kebaruan di Tahun yang Baru

Kebaruan dalam musik juga sepertinya selalu berulang dan sebenarnya ‘ngga baru baru amat’, kebanyakan hanya pengulangan, seperti misalnya tren musik 80an atau 90an yang kembali muncul ke permukaan

Ingat lagu dengan lirik seperti ini? “baju baru alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya”. Atau lagu dengan lirik “Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan”. Dua lagu itu menggunakan kata ‘baru’ di dalamnya, namun secara makna berbeda jauh. Dalam konteks baju baru dalam lagu di atas menandakan jika kebaruan jadi satu hal yang menyenangkan. Siapa yang tidak senang mendapat baju baru ya kan? Lain halnya dengan “Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan”. Konteks baru disana jadi sesuatu yang menyedihkan. Dalam lagu tersebut diceritakan jika si pria menaruh hati ke teman wanitanya, lalu berharap jika si wanita juga punya perasaan yang sama. Namun setelah bertahun-tahun memendam rasa, dia ‘baru’ menyadari kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.

Berbicara soal baru, hal tersebut seakan berjabat erat dengan bulan Januari pada tahun yang baru ini. Dan jika hal itu dihubungkan dengan musik, maka pertanyaannya adalah apakah memang dalam dunia musik kita akan menemukan sesuatu yang baru (yang menyenangkan) atau sesuatu yang baru (yang menyedihkan), seperti halnya dua lagu di atas. Sesuatu yang baru yang menyenangkan mungkin ketika mendapati realita jika dalam hal musik ada ladang baru yang bisa para musisi jadikan tempat mengumpulkan pundi-pundi. Ya, NFT. Non Fungible Token (NFT) merupakan aset digital yang telah menarik minat masyarakat Indonesia dalam melakukan investasi dalam mata uang kripto. NFT digunakan sebagai bukti kepemilikan barang yang dapat dibeli dengan mata uang kripto. Barang yang dapat dibeli meliputi beragam media, mulai dari karya seni, klip video, musik, dan sebagainya. NFT jadi ladang baru bagi musisi menjual karyanya. Mendapat royalti tidak seberapa di platform musik seperti Spotify, para musisi bisa mencobanya dengan ‘berjualan’ di NFT.

Sedangkan sesuatu yang baru (yang menyedihkan) mungkin bisa bersumber dari fakta tentang musik tik tok yang menjadi primadona belakangan ini. Suguhan musik dengan irama cepat yang piawai mengajak pendengarnya untuk berjoget ini, sayangnya tidak disajikan dengan keutuhan estetika karyanya. Hanya agar pendenga berjoget dengan irama lagunya, bukan untuk memberi insight bagi pendengar, lewat apa yang dituturkan lagu tersebut. Disayangkan, namun realitanya tren musik selalu berubah. Musisi-musisi yang membawa wacana mungkin masih punya tempat bagi para penikmat karyanya, namun jika ngomongin soal tren, sepertinya hal itu tidak lagi dipandang seksi. Padahal dengan kecanggihan teknologi ‘hari ini’ semua orang rasanya bisa membuat musik dengan produksi rekaman yang baik, namun ada berapa banyak dari mereka yang bisa melahirkan karya dengan estetika dan esensi seni yang bisa bicara banyak.

Kebaruan dalam musik juga sepertinya selalu berulang dan sebenarnya ‘ngga baru baru amat’, kebanyakan hanya pengulangan, seperti misalnya tren musik 80an atau 90an yang kembali muncul ke permukaan. Kebaruan dari segi sound juga terkadang hanya penyempurnaan dari karakter sound sebelumnya, bukan sesuatu yang memang benar-benar baru.  Mungkin, jika harus ada sesuatu yang baru pada tahun yang baru ini, hal tersebut bisa dihubungkan dengan harapan yang baru akan ‘nasib’ musisi tahun 2022 ini. Semoga memang panggung kembali ramai dengan penampilan band-band/musisi yang menyanyikan lagu barunya. Semoga memang harapan baru tersebut berbanding lurus dengan keberuntungan yang baru pada tahun yang baru ini.

BACA JUGA - Tahun Yang Baru, Keberuntungan Yang Baru

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner