Mendandani Degung Sunda Ala Parahyena dan Agus Rukmana

Mendandani Degung Sunda Ala Parahyena dan Agus Rukmana

Secara keseluruhan, aura positif dalam ‘Lutung Bingung’ justru terasa dari aspek minimalis yang Parahyena pertahankan. Karya ini seakan ingin membuktikan bahwa proses kolaborasi itu tak selalu harus tendensius, khususnya dalam memadukan musik akustik/folk dengan nada-nada tradisional Sunda. Tak melulu harus ramai aksen, penuh gemuruh, sarat progresi, juga padat akan skill. Nyatanya, membawa atmosfer musik ‘simpel’ namun padat tema, bisa jadi bisa solusi sekaligus metode baru. Sebuah indikasi, bahwa pada fase ini Parahyena sudah lebih mature, dengan mengedepankan kualitas harmoni dan dinamika lagu. As usual, mereka kembali berhasil membuat musik humble tetap ‘beracun’.

Dari segi teknis, kemampuan instrumental para personil Parahyena (beserta ornamen multi-etnik khas mereka; yang renyah alih-alih konvensional) kini sudah menunjukkan kelasnya tersendiri. Dengan terus memperluas daya eksploratif Parahyena seperti halnya lagu ini, maka disinyalir mereka akan mulai dilirik para film-maker yang mencari soundtrack film ber-setting budaya Jawa Barat; di masa depan nanti. Who knows, but they could.

Kesimpulannya: jika folklore dari jazirah Tiongkok punya epos-epos semacam ‘Monkey King’ alias ‘Sun Go Kong’ a.k.a ‘Kera Sakti’ – di mana soundtrack-nya pun terdengar sangat ‘geografis’, maka Jawa Barat punya epos ‘Lutung Kasarung’ – di mana Parahyena dan Agus Rukmana telah berperan sebagai Sundanese philharmonic; dalam versi indie yang lebih nge-folk, tentunya. ‘Lutung Bingung’ inilah proyek awalnya.

Sumber foto : YouTube channel Parahyena

BACA JUGA - Album Review : Menelisik Suara Musik Parahyena Lewat Album Ropea

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner