Mengangkat Tema Social Issue, Bangkutaman: “Kami Musisi, Bukan Aktivis

Mengangkat Tema Social Issue, Bangkutaman: “Kami Musisi, Bukan Aktivis"

Bagaimana cerita dari keterlibatan kalian dalam jingle iklan layanan masyarakat kemarin?
Irwin
: Jadi, ini adalah rencana dari NGO (Non-Governmental Organization), namanya Plan International. Dia bekerja di bawah tanah, dalam artian di belakang layar. Sekarang, mereka mulai muncul di permukaan dan semakin memperkuat humas. Salah satu hal yang mereka lakukan adalah mencari band yang bisa diajak kolaborasi, dan apa sih yang sekarang ini lagi relevan tapi nggak millenial amat. Mereka cari band yang punya bobot dan yang punya portofolio. Mereka lalu mengontak kami, karena dulu kami udah rilis album Ode Buat Kota.
Tapi, kami adalah musisi, bukan aktivis. Maksudnya, ada beberapa band lain yang mungkin "lebih aktivis", tapi kalau Bangkutaman lebih kepada main musik.
Setelah itu, saya beritahu anak-anak Bangkutaman dan dari sisi kreatifnya dibuat oleh Acum. Di proyek itu, saya sebagai project manager dan Acum creative directionnya. Kami berunding mau dibikin seperti apa. Prosesnya, Acum pakai double string dan acoustic based.
Acum: Iya, double senar.
Irwin: Udah gitu drumnya full set. Akhirnya, jadilah satu karya itu.

Iklan itu sendiri secara spesifik menjabarkan tentang apa?
Irwin: issuenya dari mereka. Plan International itu ternyata concern terhadap anak kecil, khususnya anak kecil perempuan yang belum mendapatkan hak-haknya di Indonesia. Dari situ, Plan International ini datang ke saya bawa konsep dari mereka. "Win, gue punya konsepnya kayak gini, dan kalau didengar lagu Bangkutaman dengan 'nanana' itu kayaknya dari anak kecil sampai orang gede nempel di kepalanya". Ya udah, kami bikin. Awalnya, kami nyebutin itu "Lagu Banjir", karena nggak ada judulnya. Mereka ngasih lirik yang isinya beberapa aksi yang dilakukan ketika banjir datang, misalnya harus laminating dokumen-dokumen penting, matikan listrik, dan dibikin info graphic supaya anak kecil bisa cepat mengerti. Dari situ, kami tahu bahwa lagu ini untuk mengingatkan banyak orang bahwa buang sampah sembarangan itu salah. Ini lebih ke awareness campaign untuk orang-orang. Caranya, apalagi kalau bukan buat "nampar" orang-orang lewat lagu dengan Bangkutaman itu.

Dari iklan itu, sudah terlihat dampak positifnya?
Madava: Rumah gue di Bekasi, dan kayak salah satu tempat korban banjir. Kemarin, gue ngasih ke Pak RT dan RW setempat. Akhirnya, di Karang Taruna RW gue, mereka lihat dan dapat respon positif dari mereka. Dari hal kecil aja sih bisa dilihat. Contohnya, di RW gue udah mulai menjalankan hal itu. Bagus sih, warga dan tetangga gue jadi siap kalau menghadapi banjir. Yang penting, kita pelan-pelan ngasih tahu, "gini loh caranya untuk menanggulangi banjir" dan semoga bermanfaat dengan cara itu.

Sebelum tergabung dalam proyek jingle ini, Bangkutaman melihat fenomena banjir itu seperti apa?
Acum: Sebenarnya, itu kayak issue yang berulang. Maksudnya, belum ada penyelesaian yang konkret tentang itu, dan memang kayaknya untuk sepuluh tahun ini kita masih pesimis. Untuk sepuluh tahun ke depan, misalnya ngomongin koridor Jakarta, kita masih belum bisa benar-benar terhindar banjir, pasti masih ada aja tempat yang banjir. Menurut kami, sudah saatnya ada campaign seperti ini. Ketika musisi bisa bikin sesuatu, dengan bentuk lagu dan visual. Karena, memang itu yang paling bisa ditangkap dan paling ringan. Mengapa kami bikinnya di YouTube, karena "Kids Zaman Now" akrab dengan YouTube. Kami buat viral, di Twitter, Instagram dan lain-lain, supaya cepat bisa menyebar, dimengerti, dan memang sesuai dengan koridornya Bangkutaman. Kami memang nggak mau berpolitik, kami lebih baik bersosial. Jadi, proyek seperti ini yang memang kami butuhkan. Semoga band-band lain bisa ikutan, terutama band-band gede.

Sebelumnya, Bangkutaman pernah melakukan proyek serupa seperti ini?
Irwin: Ketika rilis album Ode Buat Kota, kami sempat main untuk LSM dan komunitas-komunitas. Mungkin, dari situ publik melihat album itu ternyata lebih ke social issue, tapi nggak didesain seperti itu dari kami. Kami hanya menulis apa yang kami rasa, dan dari situ orang atau media yang mengklasifikasikan bahwa Bangkutaman adalah band yang sarat dengan social issue. Dari situ, ketemu positioning. Band itu kayak brand, positioning juga dan sekarang untuk survive mesti punya positioning yang kuat. Kayak gini, kami memang punya campaign Bangkutaman back to street. Malam ini (Spasial Session 7), kami main ke komunitas, back to the roots.

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner