Menjadi ‘Hippies’ Masa Kini
Dewasa ini, tekanan globalisasi sungguhlah nyata. Jika tak bisa mengikuti zaman, maka Anda mutlak dianggap manusia homo sapiens. Memasuki era budaya pop, kita disajikan dengan berbagai macam ‘kudapan’ sub-kultur yang tak hanya berasal dari tanah air saja, namun juga berbagai macam penjuru muka bumi. Salah satu yang ingin saya bahas adalah hippies. Apa itu hippies?
Tergumulnya kaum hippies kurang lebih terjadi pada tahun 1960-an, di mana kala itu, muda-mudi Amerika Serikat khususnya di Kota San Fransisco, California, melakukan protes besar-besaran atas nama perdamaian dan perubahan sosial-politik. Hal tersebut berangkat dari tejadinya perang Amerika kontra Vietnam yang mereka rasa bersinggungan dengan konsep perdamaian. “Make Love Not War” kata mereka, jika ditanya soal semboyan. Lambat laun, mereka mulai bertambah besar dan bebas. Biasa disebut juga Flower Generation (Generasi Bunga), kaum hippies hidup dalam bentuk kekeluargaan non-tradisional seperti dalam commune (komunitas kehidupan bersama dalam kelompok). Seks, substance, dan tampil urakan, sudah bukan hal yang aneh bagi mereka.
Masih banyak lagi penjelasan rinci yang bisa dijabarkan lebih lanjut. Indonesia pun punya masa-masa itu, meskipun Soekarno (presiden pada saat itu) mengkritisi habis-habisan; salah satu buahnya yakni Koes Plus, band pop-rock berbau hippies pada saat itu, yang dipenjara karena memainkan musik barat dan disinyalir bisa menyipratkan gejolak hippies secara masif di tanah air. Lantas, siapa bilang hippies sudah mati? Secara ideologi memang iya, namun secara lifestyle tidak. Malahan, mereka memiliki kemajuan yang signifikan. Warna-warni tetap ada, guna-guna psikedelia masih jadi kebiasaan, hanya pemikirannya saja yang nol. Berikut ciri-ciri keparat hippies yang saat ini menjamur di sekitar kita:
1. Pakaian
Kita masih tetap menemukan warna-wana tie-dye nan mencolok, celana cutbray, dan gelang-gelang yang menumpuk di pergelangan tangan. Tak lupa jaket kulit ala Indian, tas handmade kreatif, dan kacamata yang kurang lebih bisa disebut “kacamuka”, karena saking tebalnya. Logo perdamaian itu masih jelas terpampang dalam kaos, meski ada juga yang memakai t-shirt gambar grup musik identik macam The Beatles, Pink Floyd, Led Zeppelin, dan ‘itu-itu saja’ lainnya. Pernah terjadi obrolan singkat antar saya dan teman yang membicarakan Tame Impala karena ia memakai kaos bergambar band tersebut, namun ia secara percaya dirinya menjawab “tak tahu akan grup ini”. Tak usah sungkan untuk mengasihani dan memberi sedekah untuk hippies yang seperti ini. Tak lupa, terkadang kaum hippies kini tampil lebih modern dengan memakai totebag dan topi pancing. Ya, topi pancing.

2. Tubuh
Kurus adalah perwakilan dari sosok hippies yang sesungguhnya. Entah kehabisan makanan untuk berbagi dengan commune-nya, atau memilih untuk berpetualang ria bersama zat-zat ‘penerbang’ ketimbang membeli sarapan. Lantas yang paling kentara adalah berambut gondrong. Jika saya didaulat untuk membuat kitab kaum hippies, maka “memiliki rambut panjang” adalah poin yang pertama. Dulu, ideolog hippies di Amerika sana, punya alasan yang baik untuk memanjangkan rambut. Political statement, atau pernyataan politik, kurang lebih artinya. Menandakan bahwa ia berusaha melawan kebijakan politik dengan melanggar batas-batas norma salah satunya menjadi gondrong. Kalau hippies masa kini, menggondrongkan rambut karena apa ya?
3. Substance
Belum hippies jika belum mabuk. Apakah statement ini perlu diiyakan? Banyak iya, sedikit tidaknya. Tie-dye adalah gambaran halusinasi yang dihasilkan dari efek ‘petualangan’ tersebut. Mata teler, tubuh sempoyongan, dan ciri lainnya. Jika tak ada dana untuk beli ‘barang’ mahal, kini banyak kedai bir yang buka di sudut-sudut kota. Tapi jangan salahkan saya, bila nanti teman-teman hippies yang tercinta ini bertemu dengan ‘hippies-hippies lain’ dari skena yang berbeda. Tetap jaga persahabatan, kalau perlu buat commune yang lebih besar. Kalau dirasa perlu lagi, sila buat negara sendiri. Dewasa ini, sudah banyak apotek yang menjajakan kudapan dahsyat yang bisa disalahgunakan bagi mereka yang ingin terbang. Inilah kenikmatan Tuhan untuk hippies masa kini: apotek.
4. Pemikiran
Hippies pada dasarnya merupakan kaum perlawanan. Namun ketika perlawanan itu berakhir, tak sedikit dari mereka yang masih berada dalam zona nyaman hippies yakni hidup bebas. Musisi sekelas Frank Zappa pun pernah mengkritik tentang hippies yang seharusnya bubar setelah gerakan mereka usai. Bahkan menurut analisa saya, lagu The Who berjudul “Baba O’ Riley” kurang lebih berbau cercaan terhadap para hippies muda yang tak kuat dari segi pemikirannya. Hippies saat ini tak berpikir lebih jauh untuk dapat menyebarkan perdamaian. Jangankan perdamaian, dirinya saja sudah pusing ingin mencari dana untuk menghippieskan lewat penampilan. Belum lagi butuh substance mahal.
5. Foto profil di jejaring soal
Sejauh ini, mungkin hal inilah yang paling gamblang secara nyata dapat dilihat. Biasanya, keparat hippies masa kini menggunakan efek-efek memabukkan dalam profile picture, seperti blur, contrast berlebih, motion, mengacungkan dua jari (entah atas nama damai atau salam dua jari dalam artian kampanye politik Jokowi), dan lainnya. Semakin foto tak jelas, maka eksistensi ke-hippies-an orang tersebut semakin kuat. “Selamat, anda sudah menjadi hippies tulen”, jika saya bisa mengucapkannya secara personal.

Masih banyak lagi hippies-hippies yang berjamuran di negeri ini. Sebetulnya tak hanya Indonesia, tapi yang lainnya pun. Terlepas dari itu, tak semua hippies berciri seperti di atas. Ada pula yang idealis, berbobot, ada pula yang tak berpenampilan seperti itu namun hatinya hippies sejati (baca: rutin ber-substance ria). Semua balik lagi ke persepsi kita, bagaimana hippies itu eksis dan masih punya andil banyak dalam pergerakan muda-mudi saat ini. Tanpa bermaksud menjatuhkan nama baik, maka layaknya kita berdoa agar mereka yang berniat untuk menjadi hippies ini, dapat menjelma jadi hippies yang seutuhnya. Bukan sekedar hippies, bukan sekedar mabuk, bukan sekedar hidup bebas. Karena hippies adalah perlawanan, bukan seberapa besar profile picture-mu membuat orang pusing mata.
Oleh: Bobby Agung Prasetyo
Foto: Istimewa
Comments (1)