Menjelajah Lebih Jauh Seputar The Sugar Spun

Menjelajah Lebih Jauh Seputar The Sugar Spun

Sumber Foto : Diambil dari rilisan pers The Sugar Spun

The Sugar Spun mampu memperlihatkan semangat independen yang menggelora dengan produktivitasnya dalam membuat karya

Ranah musik independen selalu berhasil menghasilkan potensi-potensi yang memang seharusnya bisa terangkat ke permukaan. Karya-karya dari setiap pelaku di dalamnya dapat menjadi warna baru bagi industri musik di Indonesia. Bandung, lagi-lagi sukses menjadi wadah bagi para pemikir kreatif yang selalu menggeliat dalam pengelolaan sebuah grup musik. Kini sudah banyak grup musik independen dari Bandung yang mulai aktif menunjukan potensinya melalui beragam suguhan karya. The Sugar Spun adalah salah satu unit Alternative Rock asal Bandung yang kini mulai melihatkan geliatnya. Secara mandiri, band ini kini sudah menghasilkan beberapa karya yang patut diperhitungkan.

Band yang beranggotakan Fathir (vokal/gitar), Rashief atau lebih akrab disapa Acil (drum) dan Gilang (bass guitar/synthesizer) ini sebenarnya berasal dari Makassar. Mereka pertama kali saling mengenal satu sama lain ketika berkuliah di salah satu kampus di Bandung. Berawal dari Fathir yang melihat Acil sedang mengotak-atik audio, akhirnya Fathir mengajak Acil untuk bergabung ke dalam band yang saat itu Gilang sudah tergabung. Referensi musik mereka bertiga ternyata cukup kontras, di mana  Fathir lebih sering mendengarkan Nine Inch Nails, Radiohead, Last Dinosaurs dan band-band sejenis lainnya. Gilang sendiri lebih menyukai musik-musik eksperimental seperti Christian Loeffler dan Son Lux. Sedangkan Acil sedang menyukai The 1975 yang notabene beraliran Alternative Rock.

Berbicara tentang setiap lagu yang sudah diciptakan, proses producing dan eksplorasi dari segi musik sering dilakukan oleh Gilang dan Acil. Untuk departemen lirik sendiri diisi oleh Fathir. Berkaca dari referensi-referensi setiap personil, nampaknya berefek kepada komposisi musik dalam lagu-lagu The Sugar Spun yang terdengar lebih berwarna dengan balutan nuansa modern yang relevan dengan masa kini. “Kalo masalah producing dan eksplor dari segi musiknya tuh lebih ke Gilang sama Acil. Jadi di awal tuh kita briefing dulu soal lagu mau kaya gimana, terus abis itu baru kita serahin masalah lirik ke Fatir, musik dikerjain sama Gilang dan Acil.” jelas Fathir.

 A Thousand Tiny Thought adalah album perdana The Sugar Spun yang baru saja dirilis tepat pada tanggal 15 Oktober 2021 lalu. Gilang bercerita tentang rencana perilisan album ini sebenarnya ingin dilaksanakan tahun 2020. Sama seperti kebanyakan musisi lainnya, pandemi tetap menjadi faktor utama yang menghambat perilisan album ini. Kemudian Gilang juga menjelaskan bahwa ketika masa pandemi sedang di level tinggi, ia, Fathir dan Acil sedang berada di rumah kontrakannya, di sekitar jalan Cihanjuang Bandung. Karena tidak bisa keluar rumah, akhirnya proses-proses kreatif mulai muncul dari mereka bertiga. Isolasi mandiri menjadi tema yang mereka angkat untuk album terbarunya ini. Isolasi mandiri yang mereka ceritakan disini konteksnya bukan pandemi, tetapi mereka ingin lebih mengeksplore kegiatan orang-orang yang memang malas untuk keluar rumah.

Seputar lagu-lagu di album A Thousand Tiny Thought, Fathir menjelaskan tentang hubungan dari semua lagu yang ia akui secara lirikal tidak saling terikat namun berada di satu universe yang sama. Proses pengerjaan album ini mereka analogikan seperti orang yang baru pindah rumah. “Jadi kita ke rumah kontrakan yang baru dan kita ada lima orang nih, terus kalo di rumah kontrakan tuh kita pengen setiap kamar beda warna. Kita emang di satu atap yang sama tapi didalamnya berwarna-warni. Jadi album ini tuh ibarat kamar dan The Sugar Spun itu jadi atapnya.” jelas Fathir.

Terdapat hal menarik selama proses pembuatan album berlangsung. Secara keseluruhan, setiap personil The Sugar Spun tidak pernah menaruh batasan dalam pembuatan konsep dan cerita pada lagu-lagu di album A Thousand Tiny Thought. Hal itu terlihat ketika mereka ingin membuat sebuah lagu yang mudah untuk dinyanyikan oleh orang-orang, seperti ketika mereka membuat lagu “Sugar Snap” dengan reff yang mudah dihafal. Lalu untuk lagu dengan tempo sedikit cepat mereka membuat lagu “Can You See Mama”, untuk lagu yang lebih rumit ada lagu “Seclucion” dan “Ocean Tides”. Jadi secara keseluruhan, album ini memiliki banyak kejutan yang siap menghibur para pendengar. Selain itu, pengerjaan album ini sangat jauh berbeda dengan project sebelumnya ketika mereka membuat EP.

Proses pengerjaan EP All The Tracks Based On My Feelings and This Is What It Looks Like lebih banyak direkam di studio. Sedangkan untuk album A Thousand Tiny Thought, mereka lebih banyak melakukan producing di kediaman Gilang karena Pandemi. Memakan waktu hingga dua sampai tiga bulan, Gilang dan Acil lebih sering bereksperimen dalam masalah teknis audio. Salah satu eksperimen yang mereka lakukan dalam mengolah audio adalah ketika mereka mencoba untuk merekam lagu di toilet. Selain itu mereka juga sering membuat sampel suara dari barang-barang yang ada di rumah, seperti botol kaca, kaleng dan barang lainnya. “Selama waktu itu Gilang sama Acil sering mengeksplor masalah teknis audio, kaya kita pernah coba ngerekam lagu di toilet.” ujar Gilang seraya tertawa.

Untuk urusan video klip, sebenarnya The Sugar Spun sudah membuat beberapa video klip. Salah satu yang baru saja dirilis adalah “Madhouse”. Mereka mengakui bahwa seharusnya video klip untuk lagu “Madhouse” ini dirilis pada tanggal 13 Oktober 2021. Namun karena tanggung, akhirnya mereka memutuskan untuk merilis video klip itu pada tanggal 14 Oktober 2021 yang bertujuan agar memadatkan waktu producing. Jadi proses kreatif video klip “Madhouse” ini dilakukan dalam waktu satu hari dan sehari setelah video klip itu dirilis, mereka langsung ‘tancap gas’ merilis album A Thousand Tiny Thought. Video klip “Madhouse” juga mereka akui sebagai gambaran besar dari album terbarunya The Sugar Spun. Secara makna, video klip “Madhouse” ini menceritakan tentang kebosanan yang Acil, Gilang dan Fathir rasakan selama terjebak di dalam rumah ketika pandemi.  

Lewat karya-karya The Sugar Spun mampu memperlihatkan semangat independen yang menggelora dengan produktivitasnya dalam membuat karya. Semoga band-band lain yang masih mencoba untuk muncul ke permukaan bisa terinspirasi dari apa yang sudah The Sugar Spun lakukan.

BACA JUGA - Masihkah Pop Punk Memikul Beban Musik Pemantik Semangat?

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner