Menjelang 10 Tahun Karya Solo OWNDRIS
Nomor berjudul "Kala Itu", kini sudah diputar hingga 199 ribu kali di Spotify (hingga Desember 2017). Pada lagu akustik ini, diksi pada lirik, aksen vokal, serta karakter nada glocken terdengar menyatu dan saling mengiringi. Meski terdengar ‘ringan’, sebenernya lagu ini melukiskan satu peristiwa temaram. OWNDRIS mengisahkan proses ‘mati rasa’ seseorang terhadap sosok pujaannya, dengan padanan pesan puitis. “Aku hilang, dalam lautan tatapan matamu yang tak lagi kukenang. Kau mengalunkan semua senyuman. Tapi aku, tak merasa tenang. Tapi aku, tak merasa tentram seperti kala itu” – potongan lirik dari reffrain ini seakan mengajak siapapun sing along; lalu setelahnya diajak melamun – karena baru sadar, bahwa lirik barusan bisa menjadi ambigu sekaligus paradoks. Entah kita harus bahagia atau sedih, ketika senyum dan tatapan dari sosok pujaan kita, ternyata sudah tak berdampak apa-apa di hati.
Pada lagu "Desir", sejak intro Andris berupaya mengalunkan cuaca mendung di pagi hari, ibarat ‘cuaca hati’ seseorang saat kehilangan mentari. Kesejukan yang ditawarkan terasa elegan berkat nuansa swing di dalamnya. Arsitektur akustik pada lagu ini tak hanya terbangun dari komposisi Andris seorang. Selantun vokal manis nan sejuk dari Dhea Febrina (vokalis dari band folk Little Lute) berkontribusi manis di sini. Selain Dhea, lagu ini dihias alunan grand-piano nan soulful dari Ridwan ‘Iwanpopo’ Rahmawan, juga riak-riak dari brush-sticking Rully Parulian (keduanya session player Yura Yunita). Vibes lagu ini terasa lebih gemuk dan berumur. Liriknya pun mengandung kelas konotatif yang tak terlampau berat. Lagu yang akan memperhangat mantelmu saat ‘cuaca’ sedang ‘dingin’.
Jika lagu "Desir" melukiskan dinginnya pagi, maka singel berjudul "Malam" justru menggambarkan hangatnya malam. Lagu ketiga ini lebih memperdengarkan cara OWNDRIS menyuarakan his own unspoken words, di mana peran gitar akustiknya ibarat keremangan api unggun. Sepi meski hangat. Pada akhirnya, tetap saja ada spoken words yang sukses menyita telinga kita. Kalimat ‘Resonansi hati terhadap alam’, salah satunya. Di akhir menit ke-4 lagu, seakan tiba waktunya kita untuk menengadah wajah ke atas. Menatap langit malam sejenak, sambil tetap berselimut nada. Alam pun seakan merespon resonansi hati kita, dengan kilau bebintangan yang seakan saling mendenting. Bersama alam, hidup tidaklah sedingin itu, meski nyatanya tak juga sehangat itu. Semua akan seimbang pada waktunya.

Comments (0)