Menjelang 10 Tahun Karya Solo OWNDRIS
Lewat menulis dan menyanyikan lagu-lagu solonya, sang gitaris – yang juga ahli bidang persinyalan ini seakan memberi kita ‘sinyal’, bahwa sejatinya, kasih sayang itu sulit menjadi ‘nirkabel’.
Ada kesan mature dan private ketika mendengar karya-karya solo dari pria asal Cimahi ini. Rasanya, semua lagunya terlahir dari sebuah gitar akustik yang memang benar-benar ia ‘sayang’. Apalagi jika menilik fakta, bahwa salah satu gitaris band Oyster ini selalu punya ritual sebelum dan sesudah main gitar. Ia mengeluarkan kain khusus dari softcase, mengelap seluruh senar agar bersih dan tidak berkarat. Kemudian gitar bernama ‘Annisa’ ini ia peluk dan pangku sepenuh hati.
Sebelum hembus napasnya bersama Annisa segera di-‘konversi’ menjadi chord major tujuh atau sembilan, ritual ditutup dengan proses nyetem. Nah, tahap nyentil-nyentil dan ngejewer-jewer senar gitar inilah yang (mungkin) bikin imajinasi kaum hawa spontan membayangkan, “Oh, nanti dia bakal gini ya, pas nyentil anaknya kelak. Hmm, ternyata anak itu perlu di-setem sama orangtuanya. Supaya karakter si anak enggak false,” – meski sayangnya, at the end wanita-wanita barusan tetap saja pergi darinya dengan banyak alasan – meski artinya, akan banyak pula peluang sosok baru untuk datang.
Siklus ‘datang dan pergi’ inilah, sumber inspirasi Andri Setiawan (OWNDRIS) dalam menciptakan lagu. Andris – sapaan akrabnya, sudah memulai ekspedisi batinnya sejak 2008 silam. Berkat kecintaannya terhadap Sigur Ros, Adhitya Sofyan, King Of Convenience, Regina Spector, Feist, Edward Sharpe & Magnetic Zeros, Seabear, Copeland, dan Billie Marteen, kini Andris sudah menetaskan sepuluh ‘anak’ lewat pernikahan musikalnya bersama Annisa. Semua lagu solonya telah tersedia di platform Spotify.
Comments (0)