Menyaksikan Wayang Diantara Sayatan Distorsi Dari Jasad
Menyaksikan wayang golek ber-headbanging di atas panggung, ketika Jasad tampil agresif memainkan lagu-lagunya, tentu menjadi pemandangan yang langka dan menarik
Ada yang berbeda dalam penampilan Jasad pada gelaran “Bhinneka Tunggal Ika : Liman Soka” tahun 2018 ini. Salah satunya yakni dengan kolaborasi antara Jasad dan dalang Batara Sena. Kolaborasi yang jarang terjadi, dan mungkin hanya satu-satunya dalam sejarah pertunjukan musik metal. Menarik, mengingat dua unsur kesenian ini dipadu padankan jadi sebuah pertunjukan yang menarik, karena lahir dari latar belakang yang berbeda.
Jasad seperti menembus pilar-pilar perbedaan itu, dan menginisiasi kolaborasi dalam gelaran ini. Bahkan saking antusias dengan kolaborasi ini, Man (vokalis Jasad), bahkan mencukur kumis dan janggutnya. Hal ini diakui oleh dia sebagai sebuah nazar, jika dia bisa berhasil berkolaborasi dengan dalang Batara Sena, dia akan melakukan nazar tersebut. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat Man sendiri merupakan penggemar wayang golek, terutama dengan dalang Asep Sunandar Sunarya, yang merupakan dalang yang cukup disegani, dengan semua terobosan dan totalitasnya dalam kesenian ini. Dalang Asep sendiri merupakan ayah dari dalang Batara Sena. Jadi tidak heran jika akhirnya Man sampai harus melakukan nazar, karena bentuk respect dia terhadap kesenian wayang ini.
Menyaksikan wayang golek ber-headbanging di atas panggung, ketika Jasad tampil agresif memainkan lagu-lagunya, tentu menjadi pemandangan yang langka dan menarik. Apalagi ketika dalang Sena diberikan spotlight, ketika jeda penampilan Jasad. Banyak celotehan jenaka, namun tentunya sarat makna, dimana itu bisa dikatakan jadi kekhasan dari wayang itu sendiri. Selain sebagai hiburan, wayang juga pada perkembangannya jadi perpanjangan tangan juga dalam menyampaikan kritik sosial, ataupun sebagai penyampai isi hati banyak orang, yang disampaikan dengan cara yang jenaka. Pada pertunjukan malam itu juga, dalang Sena memainkan perannya sebagai dalang dengan baik. Apalagi ketika Cepot muncul dan menjadi magnet tersendiri bagi banyak orang, mengingat wayang Cepot sendiri merupakan wayang yang cukup dikenal oleh masyarakat luas.
Pertunjukan wayang dipanggung Jasad makin menarik, ketika Man ikut ambil bagian menjadi dalang. Selain terampil menyuarakan lagu-lagu Jasad yang terbilang punya daya ledak yang kuat, Man juga tertantang menjadi dalang, dimana keterampilannya mengolah suara diuji malam itu. Lumayan, meskipun tidak mencapai tahapan luar biasa. Tapi kesimpulannya, penampilan Man kala menjadi dalang cukup menghibur, dan jadi sesuatu yang berbeda juga, terutama bagi penonton yang datang, karena mereka mendapat sajian yang tidak biasa dari Jasad. Hal ini mungkin bisa berimbas dengan ketertarikan kembali akan seni wayang ini. Karena jika saja bisa mengemasnya, pertunjukan wayang ini bisa menarik juga. Salah satunya, dengan kolaborasi di gelaran “Bhinneka Tunggal Ika : Liman Soka” ini, yang memadukan unsur musik death metal dengan tradisi.
Comments (0)