Menyimak Keluhan Oscar Lolang dalam Sepuluh Lagu

Menyimak Keluhan Oscar Lolang dalam Sepuluh Lagu

Bagaimana cerita tentang album Drowning In A Shallow Water?
Sebenarnya album ini proyek lama bareng Karma Records, tapi nggak lama banget sih. Dulu, saya kirim dua lagu ke Karma Records untuk direkam, yaitu lagu “Eastern Man” dan “The Way She Does Things” yang akhirnya keluar di Epilogue kemarin sebagai EP. Awalnya, saya punya rencana merilis EP lain di luar Epilogue, tapi rencana itu nggak kesampaian. Kalau tentang album Drowning In A Shallow Water sih intinya banyak menceritakan tentang keresahan saya terhadap berbagai hal yang saya rasain di Indonesia ini.

Keresahan?
Ya. Keresahan itu kadang-kadang muncul, kayak di lagu “Eastern Man” yang berbicara tentang Papua. Saya nggak merasakan fenomena di Papua, tapi saya punya keinginan untuk mencurahkan itu ke dalam lagu tersebut. Ada juga beberapa hal lain saya dapatkan dari membaca, atau dari berita, ngulik internet gitu. Intinya, album itu bentuk keresahan saya yang dituangkan dalam lagu.

Semua lagunya?
Hampir semuanya, sih. Totalnya ada sepuluh lagu, sembilan lagu karya saya dan satunya cover dari salah satu lagu daerah, judulnya “Kumbaya”. Lagu “Kumbaya” itu satu lagu folk dari musisi kulit hitam yang berasal dari Amerika.

Selain keresahan, apa lagi yang diangkat dalam album ini? Isu politik, misalnya?
Banyak sih. Yang bermula dari politik ada, dari keresahan pada kondisi lingkungan ada, baik Jakarta, Bandung, atau yang ada di sekitar saya aja. Tapi, politik pasti ada sih.

Saya sempat baca di siaran pers. Katanya, Oscar telah melewati sebuah perjalanan. Maksudnya?
Itu sebenarnya simbolik sih. Kasarnya, itu jadi perjalanan bermusik saya yang ditutup sama Epilogue dan dibuka sama Drowning In A Shallow Water. Awalnya, lagu “Little Sunny Girl” dan lagu-lagu yang ada di Epilogue itu sebenarnya dipersiapkan untuk album. Tapi, kayak yang diceritain barusan, hal itu nggak kesampaian. Rencananya itu awal Desember 2016 rilis full album, sampai akhirnya saya rubah taktik ini dan itu, munculah Drowning In A Shallow Water di 2017. Di “Little Sunny Girl”, pendekatan saya lebih lembut, dan di sini garis besarnya lebih gloomy dan marah.

OK, ke pertanyaan yang lebih spesifik. Untuk album pertama, Oscar merilis single “Clouds Of Jakarta”. Bagaimana cerita tentang lagu itu?
Pergejolakan hati, sebenarnya. Saya kan aslinya dari Jakarta, di hati saya itu kayak ada tanggung jawab untuk selalu kembali ke Jakarta dalam berbagai hal. Makanya, tiap versenya saya bikin kontradiktif. Di sana ada keluarga saya dan saya bisa tertawa lepas, tapi di satu sisi saya bisa mengumpat, bisa marah. Semacam perasaan saya tentang Jakarta kali ya. Bisa dibilang, itu lagu homesick, ketika aku di Bandung tapi aku harus ke Jakarta dan merasakan stress full selama di sana.

Ada benang merah dari album ini?
Ada, sampai lagu “Kumbaya” pun ada. Ini sebenarnya tentang saya yang merasa di bawah. “Kumbaya” itu adalah satu lagu doau. Kalau di Amerikanya, itu lagu untuk para budak. Drowning In A Shallow Water itu ibarat lautan, ada yang cetek dan ada yang dalam. Padahal, saya udah berdiri di permukaan yang cetek, yang harusnya bisa berlari-lari, tapi malah tenggelam di dalamnya. Tenggelamnya itu karena berbagai hal, bisa karena saya takut air, atau juga bisa karena saya nggak bisa berenang, atau lain hal sebagainya. Kira-kira seperti itu gambaran filosofisnya. Kalau pesan, nggak ada yang rinci banget sih, karena saya lebih senang bercerita sebenarnya.

Bercerita kayak gimana?
Rata-rata, cerita yang ada di album ini story telling. Misalnya, saya ceritain satu hal ke orang lain. Tapi, ada beberapa lagu yang bukan pakai sudut pandang saya, tapi orang lain.

Foto header diambil dari Instagram resmi milik Oscar Lolang : https://www.instagram.com/p/BWpvcoUDL7i/?taken-by=oscarlolang

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner