Musik, Filsafat, dan Masa Depan

Musik, Filsafat, dan Masa Depan

Secara harfiah, musik merupakan sebuah objek estetis yang merepresentasikan esensi pengalaman hidup manusia. Kebermaknaan musik adalah pada penikmatan yang penuh terhadap aspek internal atau pengolahan aspek-aspek pembentuk struktur suatu karya musik. Terlepas dari itu, musik juga merupakan identitas seseorang dalam mengungkapkan keberadaan diri, serta hubungannya dengan orang lain pada suatu komunitas.

Mencoba ‘tuk menarik benang merah akan lahirnya aliran seni ini, dikatakan bahwa dengan kezuhudannya terhadap dunia, juga kelembutan dan kemurnian hatinya, salah satu filosof Yunani Kuno, Pythagoras, mampu memenangkan inti dan pelajaran dari musik samawi. Dengan begitu, maka ia kemudian dapat merumuskan ilmu harmoni, atau yang sekarang disebut dengan musik.

Musik adalah salah satu cabang dari ilmu filsafat. Dalam filsafat Islam, musik termasuk ke dalam ilmu matematika, disamping aritmatika, geometri, astronomi dan geografi. Jadi, kita tidak bisa memisahkan musik dengan filsafat karena musik pun merupakan bagian organik dari ilmu filsafat. Tak hanya itu, jika dibalikkan, filsafat bisa saja menjadi bagian dari musik. Entah secara epistemologis, ataupun konsep lainnya. Pemikiran-pemikiran kiri, radikal, absurd, dan lainnya, menjadi bumbu sedap dalam bebunyian khas elektrik, orkestra, tradisional, atau hanya sekedar unplugged.

Mari telisik punk rock. Berkat imej The Sex Pistols yang kuat, jenis musik ini banyak yang bilang sebagai musik berhaluan anarkisme. Brutal, liar, vandal, dan kenakalan-kenakalan lainnya. Lalu ada The Cure, yang konon katanya, sangat kelam bagaikan absurditasnya Albert Camus; penuh pertanyaan, terjebak dalam dimensi lain, keacuhan terhadap sarana muka bumi, dan sebagainya. Juga ada Manic Street Preachers, yang tak tahu harus dibilang apa—anarkis, frontal, tapi kelam—jika mesti dinilai.

Jangan lupakan musik Indonesia. Mulai dari Koes Plus sampai siapapun yang hadir detik ini, tak pelak memiliki ciri khas dan pemikirannya sendiri dalam bermusik. Lewat kacamata pribadi, grup seperti Kantata Barock, Philosophy Gang-nya Harry Roesli, sampai ke beberapa dekade kemudian mulai dari Puppen, Efek Rumah Kaca, Seringai, beberapa barisan punkers tanah air yang tak mau disorot (dengan kata lain anti-media), juga Homicide yang kita kenal sangatlah berbahaya secara ideologi, adalah bukti bahwa filsafat merambah secara membahana lewat musik. Masih banyak lagi band-band baik luar maupun dalam negeri yang secara kontennya cukup berbahaya dan berani mengenyampingkan sejenak perihal substance, hedonisme rock n’ roll, wanita, dan kemenye-menyean cinta.

Semakin hari, beberapa setuju jika secara filosofis, makna pergerakan band kian menipis. Entah harus ada pemikiran baru, atau fenomena anyar yang tergerak demi meningkatkan kekritisan suatu band. Tahun 2015, lagi-lagi kembali menjadi ajang gambling seputar bagaimana pasar musik terjadi. Pergerakan independen haruslah mendominasi karena pada dasarnya, musik adalah seni, dan seni itu art pour l’art (murni semurni-murninya-RED). Pasar mayor juga tak boleh kendur, karena keseimbangan haruslah ada. Lantas, akankah musik serta filsafat akan tetap bersinggungan di masa yang akan datang, dan bukan hanya kekosongan belaka yang dijual di toko CD terdekat?

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner