Musik Sebagai Anestesi

Musik Sebagai Anestesi

Para pakar ilmuwan di Inggris baru-baru ini menjalankan sebuah studi penelitian, yang menyebutkan bahwa mendengar musik sebelum, selama, dan sesudah menjalani operasi dapat mengurangi rasa sakit; meredakan rasa cemas berlebih, serta mengurangi kebutuhan akan obat penghilang rasa sakit dari pasien.

Para ilmuwan ini meninjau jauh ke bukti yang tersebar dari sekitar tujuh ribu pasien. Dikatakan bahwa, pasien-pasien yang hendak dioperasi harus diizinkan memilih pilihan musik yang ingin mereka dengarkan, agar manfaat dari musik dapat dimaksimalkan.

Dikutip dari Reuters via cnnindonesia.com, tim peneliti melakukan sebuah meta-analisis dari semua publikasi penelitian secara random. Para ilmuwan ingin membandingkan dengan signifikan, setelah operasi dan melaporkan dampak yang terjadi usai pasien mendengarkan musik. Dan kabarnya, mereka-para pasien ini membutuhkan lebih sedikit obat penghilang rasa sakit dibandingkan pasien-pasien sebelumnya yang tidak mendengarkan musik, dan rasa nyeri pasca operasi jauh terasa lebih sedikit.Musik Anestesi

Namun, para peneliti juga memperingatkan, musik tidak boleh mengganggu komunikasi antar-tim medis selama operasi berlangsung. “Musik adalah perantara yang non-invasif, aman, dan murah yang harus tersedia untuk setiap orang yang menjalani operasi,” kata Catherine Meads dari Universitas Brunel yang turut dalam penelitian tersebut.

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet tersebut menemukan, kecemasan pasien berkurang secara signifikan setelah operasi, dan melaporkan kepuasan yang lebih besar usai mendengarkan musik. Mereka juga membutuhkan lebih sedikit obat penghilang rasa sakit, dan melaporkan rasa sakit yang lebih sedikit.

Musik AnestesiMeskipun studi ini menemukan bahwa mendengarkan musik setiap saat bisa efektif, tapi hasil yang lebih baik cenderung bisa didapatkan jika pasien mendengarkan musik sebelum operasi daripada selama atau setelahnya.

Lalu, ketika pasien memilih lagu sendiri, ada penurunan rasa sakit yang sedikit lebih besar serta berkurangnya penggunaan obat pereda rasa sakit. “Sudah diketahui sejak zaman Florence Nightingale (pelopor perawat modern) bahwa mendengarkan musik memiliki dampak positif pada pasien selama operasi. Musik dapat membuat mereka lebih tenang dan mengurangi rasa sakit,” kata  Martin Hirsch dari Universitas Queen Mary, London.

Selanjutnya, tim peneliti berencana menindaklanjuti skema percontohan musik ini untuk perempuan yang melakukan operasi caesar dan perempuan yang menjalani histeroskopi (pemeriksaa visual kanal leher rahim dan bagian rahim).

***

Mendengarkan musik sebelum, sesudah, dan selama operasi bisa membantu mengurangi rasa sakit, menurut sebuah kajian.

Peneliti di Queen Mary University of London mengatakan bahwa pasien yang mendengarkan musik menjadi lebih tenang setelah pembedahan dan membutuhkan obat pengurang sakit yang lebih sedikit.Musik Anestesi

Lewat tulisan di Lancet, para peneliti mengatakan bahwa musik tetap efektif meski pasien berada di bawah bius total. Kementerian Kesehatan mengatakan para dokter harus menyimak temuan ini. Para ilmuwan ingin agar brosur dinas kesehatan menyarankan agar pasien membawa alat mendengar musik dan daftar putar lagu ke rumah sakit.

Tim melakukan 70 uji coba, melibatkan 7000 pasien pada waktu bedah dengan membandingkan beragam musik yang sebagian besar "menenangkan" dengan:

  • - istirahat tanpa gangguan
  • - headphone tanpa musik
  • - white noise (kombinasi suara dari berbagai frekuensi)
  • - perawatan biasa

Meski ada pengaruhnya pada stres dan rasa sakit, musik tak mengurangi masa rawat inap di rumah sakit.

'Aman dan murah'

Peneliti utama, Dr Catherine Meads, mengatakan album "Dark Side of the Moon" Pink Floyd membantu mengurangi rasa sakit setelah menjalani tiga jam operasi pinggul pada April lalu.

Musik AnestesiMusik adalah pilihan yang aman, murah, dan tak perlu alat yang masuk badan dan seharusnya "bisa didapatkan semua orang yang menjalani operasi", katanya.

"Sekarang ini musik tidak secara rutin diputar pada saat operasi untuk membantu pasien memulihkan diri setelah beda.

"Minimnya penerapan cara ini seringnya karena skeptisisme dari para pekerja medis, apakah ini benar ada gunanya, dan tentu saja ada isu anggaran dan bagaimana mengintegrasikannya ke praktik sehari-hari."

Dr Meads menambahkan, "cukup mengejutkan" saat mengetahui musik berguna meski pasien mengalami bius total. Para peneliti menindaklanjuti temuan ini dengan penelitian di Royal London Hospital pada musim gugur.

Sekitar 40 perempuan yang menjalani operasi Caesar atau prosedur pemeriksaan rahim diberi kesempatan untuk menyambungkan playlist mereka ke bantal dengan pengeras suara.

Menjawab kekhawatiran bahwa musik saat bedah bisa mengganggu, Dr Meads menegaskan bahwa harus ada prosedur untuk memastikan agar memasang musik saat bedah tak mengganggu proses komunikasi anggota tim medis.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Inggris mengatakan, "Ini penelitian yang sangat menarik.

"Kami harap dokter mempertimbangkan temuan ini secara seksama, karena kami ingin pasien mendapatkan pengalaman dan pemulihan terbaik saat menjalani operasi."Musik Anestesi

Hazim Sadideen, ahli bedah plastik dari University Hospitals Birmingham yang juga meneliti efek musik, mengatakan bahwa penelitian tersebut cukup lengkap.

Ia menambahkan, "Menjalani operasi kecil maupun besar sama-sama bisa membuat stress.

"Musik bisa menjadi modalitas tambahan untuk meningkatkan pengalaman pasien, tentu saja penting untuk memastikan bahwa pasien dan tim medis di ruang operasi menginginkan diputarnya musik."

(BBC Indonesia)

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/08/musik-obat-anestesi-ampuh-untuk-pasien-operasi

Sumber : cnnindonesia.com

Foto : 

www.meteoweb.eu

gwrtc103projects.wordpress.com

www.louisarmstrongfoundation.org

panteres.com

www.medscape.com

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner