Musisi dan Kopi
Nyatanya perkara kopi tidak hanya berujung pada sebuah lirik lagu atau unggahan di sosial media. Tapi bisa jadi penghidupan bagi beberapa musisi ini. Dari mulai pecinta, pengusaha, hingga penggiat
Menghubungkan musik dengan kopi agaknya banyak dari kita yang langsung merujuk hal tersebut pada sebuah frasa ‘Kopi Senja’ yang biasanya diidentikan dengan deretan musisi folk (alias musisi yang bermain lagu pop dengan iringan gitar akustik, IMHO). Namun uniknya, justru banyak yang menekuni kopi berasal dari gerbong musik cadas seperti punk hingga metal. Dalam beberapa kali kesempatan wawancara di DCDC D’Podcast nama-nama musisi seperti Buux ‘Turtles Jr’ dan Obo ‘Sendal Jepit’ mengaku menekuni dunia kopi dan menjadi penggiat kopi.
Buux misalnya. Dengan membawa nama Buux Coffee Punx, gitaris band punk ini mengaku jika dari sekian banyak kopi yang ditemuinya, tidak ada yang terasa spesial atau unik. Beranjak dari hal tersebut, Buux pun memiliki ide untuk membuat kopi yang tidak jauh dari musik kegemarannya. Ya, punk, kopi punk. Dari perpaduan kopi hasil pertani lokal dengan musik punk, maka Buux membidani lahirnya Buux Coffee Punx.
Karena Buux sangat mengidolakan band Rancid, maka dia pun memberi nama sejumlah kopinya dengan judul lagu band punk asal Berkeley, California, Amerika Serikat tersebut, seperti misalnya saja kopi Ruby Soho. Dari yang awalnya sempat ragu, Buux akhirnya mantap melangkah dengan apa diyakininya. Dengan segala daya upayanya, akhirnya sekitar Maret lalu, Buux Coffee Punx mampu menembus hingga ke Bangkok, Thailand.
Lain dengan Buux, lain pula dengan Panji, vokalis band metal Veid. Denga membawa merk Idiolojip Coffee, Panji menyuguhkan kopi dengan rasa yang unik, salah satunya Kold Brew Fruity Coffee yang memadukan rasa kopi dan buah yang disajikan dingin. Menarik dan mungkin jauh lebih konkrit dibanding sejumlah penyanyi/musisi akustik yang sibuk membuat filosofi dari kopi. Tidak berhenti sampai disana, ada Karel ‘Taruk’ dan Nyangnyang ‘Taring’ yang menekuni dunia kopi dengan menjadi seorang barista.
Mungkin bagi beberapa musisi di atas kopi bukan lagi tentang puisi atau filosofi, tapi tentang cara mereka bertahan hidup atau mungkin jika ingin sedikit berlebihan memaknainya menjadi cara mereka menyikapi hidup. Nyatanya perkara kopi tidak hanya berujung pada sebuah lirik lagu atau unggahan di sosial media. Tentu ada yang menggemari ada yang kurang menyukai. Tapi, lepas dari itu musisi dan kopi rasanya memang sejalan beriringan, karena bicara tentang kopi bisa berbanding lurus pula dengan tongkrongan. Silakan tanya beberapa personil band di atas, rata-rata kebanyakan dari mereka memutuskan untuk bermusik bersama dalam wadah band bermula dari tongkrongan. Sampai akhirnya menemukan kecocokan mereka akhirnya sepakat untuk bermusik bersama. Menemukan kecocokan karena obrolan yang sama atau gelas kopi yang sama, yang sama-sama mereka angkat.
Comments (0)