Musisi Menjadi Jurnalis Musik?
Menjadi menarik ketika yang menulis tentang musik itu si musisi nya itu sendiri. Ini menjadi poin lebih dibanding dengan seorang jurnalis yang tidak memiliki latar belakang musik
Mungkin pada dasarnya semua musik itu sama, berangkat dari penyaluran kreativitas yang bersumber dari pemikiran, perasaan, dan daya hayal. Tiga unsur dalam karya seni tersebut, diterjemahkan dalam bentuk melodi dan ritmis yang harmonis menjadi sebuah lagu. Ketika lagu itu akhirnya direkam, dirilis, dan pada akhirnya didengar orang, tentu akan menimbulkan reaksi. Reaksi itu kemudian diapresiasi dalam bentuk yang beragam. Salah satu bentuk apresiasi itu ditunjukan lewat analisa seseorang dengan sebuah tulisan. Dari sana lahir pola baru menulis tentang musik, yang kemudian melahirkan apa yang disebut dengan jurnalisme dalam musik. Beberapa majalah pun mengkhususkan dirinya menjadi majalah musik, yang mengangkat banyak ragam menarik seputaran dunia musik, dari mulai cerita musisi nya itu sendiri, ringkasan album, atau juga reportase tentang konser musik.
Lalu menjadi menarik ketika yang menulis tentang musik itu si musisi nya itu sendiri. Ini menjadi poin lebih dibanding dengan seorang jurnalis yang tidak memiliki latar belakang musik. Hal-hal detail tentang musik bisa ditangkap lebih dalam, karena bersentuhan langsung dengan profesi yang dia jalani sebagai musisi. Namun jadi sesuatu yang paradoks ketika dia hadir dalam dua sudut pandang, kala dirinya mengomentari dan dikomentari. Ketika dia menjadi musisi, maka musik yang dia hasilkan akan dikomentari orang yang mengapresiasi karyanya. Sedangkan ketika dia jadi jurnalis, giliran dirinya yang mengomentari karya musisi lain.
Ada nama Arian 13 dan Ricky Siahaan dari band Seringai, yang pernah menjalani profesi sebagai penulis/jurnalis musik. Jauh sebelum Arian dikenal sebagai seorang vokalis band Seringai, dia aktif menulis untuk zine fotokopi-annya yang dia buat bersama Ucok ‘Homicide’ bernama Tigabelas zine. Dia yang memang tumbuh besar dengan musik punk dan hardcore, punya ketertarikan lebih dengan dunia itu. Ada semacam bentuk kesadaran dari dirinya, karena merasa jika dalam ranah musik bawah tanah baiknya harus dikasih edukasi juga, mengingat akses informasi ketika itu (tahun 90-2000 awal) masih belum mudah didapatkan seperti sekarang, lewat bantuan internet. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian Arian menjadi seorang editor di majalah Trax, Playboy Indonesia, dan sampai sekarang sesekali dia meluangkan waktunya untuk menulis tentang musik. Meskipun tidak se-intens dulu, Arian masih suka sedikit me-review band-band yang dia anggap menarik, untuk diangkat ke permukaan karena dianggap potensial.
Sedangkan Ricky Siahaan sendiri, dirinya sempat beberapa tahun aktif sebagai jurnalis musik di majalah Rolling Stone Indonesia. Beberapa tulisannya banyak berisi seputaran ulasan album-album musisi lokal maupun internasional. Kejeliannya menangkap atmosfir sebuah album dia tuangkan dalam bentuk tulisan berisi sudut pandangnya akan esensi sebuah album, dari mulai hal teknis sampai mood yang dibangun sebuah album musik. Sebagai seorang musisi yang juga berprofesi sebagai penulis, dia termasuk orang yang detail, dan hal ini tercermin dari cara dia mengolah musik maupun tulisan. Hal-hal yang mungkin luput dari pengamatan orang malah menjadi concern dia dalam caranya meramu nada maupun tulisan.
Selain duo dari Seringai di atas, ada juga nama Alvin Yunata, yang pernah cukup lama menjalani profesi sebagai jurnalis di Majalah Trax. Karir mantan vokalis band Harapan Jaya dan gitaris band Teenage Death Star di dunia jurnalistik ini seolah berhubungan erat dengan Arian 13, di mana latar belakang Alvin sebagai jurnalis berangkat dari tawaran Arian kepadanya untuk menulis musik di Majalah Trax. Sekitar tujuh tahun Alvin menulis disana, sampai akhirnya, karena seringnya menulis tentang musik dia jadi ‘ngulik’ banyak hal tentang musik dan sejarahnya. Hal itu diaplikasikannya dalam bentuk koleksi piringan hitam, yang jadi kegemaran baru untuknya. Dari kesenangan mengumpulkan piringan hitam tersebut pada akhirnya dia jadi mempunyai akses untuk menggali lebih jauh tentang ‘roots’ musik Indonesia, bahkan dari tahun 1915, yang disinyalir menjadi artefak awal rekaman musik di Indonesia. Hal ini pula lah yang mendasari dia untuk terjun dalam pengarsipan musik Indonesia lewat sebuah situs yang dia bangun bersama David Tarigan bernama Irama Nusantara. Coklatfriends punya referensi lain selain tiga musisi di atas, silakan tambahkan di kolom komentar ya.
Comments (1)