Nada - Nada

Nada - Nada "Musik Istana" yang Mendunia

Apabila kita coba menarik jauh ke belakang sejarah musik Nusantara, tepatnya ke beberapa abad kebelakang, musik di Indonesia berkembang sejak zaman Hindu-Budha. Musik pada jaman itu mulai memiliki fungsi lain, tidak hanya sebagai bagian dari ritual saja, tetapi berkembang menjadi hiburan yang dipertontonkan kepada para tamu kerjaan. Musik istana yang mendapatkan perhatian lebih adalah gamelan.

Gamelan merupakan ensemble musik yang terdiri dari : Kendang, Bonang, Bonang Penerus, Demung, Saron, Peking (Gamelan), Kenong & Kethuk, Slenthem, Gender, Gong, Gambang, Rebab, Siter, Suling. Dominasi budaya India dalam gamelan pada perkembangannya mulai sirna, namun cara “menyanyikan” lagu pada gamelan tetap sama. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana. Asal mula gamelan masih simpang siur, namun menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah gong, yang pada saat itu berfungsi untuk memanggil para dewa. Kemudian untuk menyampaikan pesan, Sang Hyang Guru menciptakan beberapa alat lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.

Hingga saat ini gamelan terus berkembang di beberapa daerah di Indonesia seperti, Bali, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Tidak hanya masih selalu hadir di acara-acara tradisional, gamelan oleh beberapa seniman terus diperkenalkan ke dunia tentu saja dengan menggabungkan beberapa kesenian asli Indonesia lainnya, seperti mendiang Kanjeng Pangeran Haryo (K.P.H.) Notoprojo, beliau memperkenalkan gamelan mulai tahun 1964 di New York World’s Fair, setelah itu lahirlah berbagai karya belaiau dan akhirnya disusun lalu diterbitkan oleh American Gamelan Institute. Sedikit banyak keaktifan beliau dalam memperkenalkan dan mementaskan budaya Indonesia, khususnya gamelan menjadikan gamelan dan seni Indonesia lainnya mulai dipelajari dan diminati oleh mahasiswa di berbagai universitas di America hingga saat ini.

 

Sumber referensi: https://harycahyadi.wordpress.com ; http://muhammadagilmaulana.blogspot.com

Foto Kredit : Foto : budaya-indonesia-sekarang.blogspot.com, www.musicofsound.co.nz, audiographer.wordpress.com, asal-usul-motivasi.blogspot.com, www.southbankcentre.co.uk

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner