Nyaman di Titik Ideal, Speaker First Nyatakan Indonesia Bukan Arena ‘Bertarung’

Nyaman di Titik Ideal, Speaker First Nyatakan Indonesia Bukan Arena ‘Bertarung’

Speaker First menuturkan jika Indonesia cukup hanya menjadi rumah saja bagi Speaker First, dan tidak menjadikannya sebagai arena ‘bertarung’, setelah menjalin kerja sama dengan BMG International.

Seperti banyak band lainnya yang mengalami pasang surut dalam karir bermusiknya, Speaker First tak luput dari hal tersebut, hingga puncaknya band ini harus kehilangan sang vokalis yang memutuskan untuk mundur. Hal ini membuat proses penyelesaian album kedua menjadi tertunda, hingga akhirnya pada tahun 2007 hadirlah Attir yang datang dengan membawa pengaruh baru dalam musikalitas Speaker First. Hadir dengan karakter vokal yang khas, dengan  gaya Southern music ala Credence Clearwater Revival, Kings of Leon, Bob Dylan dan nuansa black music ala James Brown serta musik-musik blues era 50an, Attir berhasil membawa materi album ke-2 Speaker First menjadi lebih berkarakter.

Lebih dari satu dekade menjadi bagian dari Speaker First, Attir kemudian berada di titik yang mungkin dia dan teman-teman bandnya impikan sejak lama, yakni bisa menembus pasar internasional. Satu hal yang kemudian dia tanggapi dengan pola kreasi seru dalam album yang dirilis oleh BMG inernational belum lama ini. “Beritakan Perjalanannya, bukan Speaker First nya”. Sepenggal kalimat yang diucapkan oleh vokalis Speaker First, Mahattir Alkatiry, saat ditemui DCDC di sela-sela syuting DCDC Musikkita. Attir biasa dia disapa menjelaskan jika dengan ‘hijrah’ nya ke Amerika itu dia berharap jika yang diberitakan itu perjalanan bandnya, yang mungkin bisa menginspirasi banyak band lainnya untuk terus berkarya hingga menyimpan mimpi untuk bisa merilis karya dengan label internasional, seperti halnya Speaker First.

Berdiri pada tahun 2002, dan sampai saaat ini, di usia lebih kurang 17 tahun perjalanan karir bermusiknya, sang gitaris Bony mengistilahkannya dengan sebuah kalimat “Sweet Revenge”, ketika dia dan bandnya berhasil menginvasi ranah global, dan benar-benar menggambarkan ungkapan go international dalam arti yang sebenarnya, yakni berada di industri dunia, dengan menjadi bagian dari iklim musik disana, dan tidak hanya sekedar manggung atau melakukan tur di luar negeri saja.

Mereka juga membahas tentang iklim bermusik di luar negeri, yang dalam hal ini dikerucutkan lagi ke ranah musik di Amerika. Menurut penuturan trio rock n roll ini, hal yang cukup kentara dari treatment industri musik disana adalah tentang profesionalisme dan cara mereka membuatnya pasarnya sendiri. Satu hal yang menurut Attir menjadi kontras dengan yang terjadi di tanah air, ketika industri musik disini selalu berfokus pada sesuatu yang seragam untuk kemudian dipasarkan. Hal senada juga diamini oleh Beni yang mengatakan jika hal-hal otentik yang dipunyai oleh Speaker First, yang mungkin tidak dimiliki oleh band-band di Amerika, justru menjadi nilai jual tersendiri, dan bukan hanya terpaku pada pola keseragaman yang biasa ditemui di Indonesia.

Bicara tentang Indonesia, ada satu hal menarik yang dituturkan Speaker First dalam kesempatan wawancara ini. Mereka menuturkan jika Indonesia cukup hanya menjadi rumah saja bagi Speaker First, dan tidak menjadikannya sebagai arena ‘bertarung’. Ditambahkan pula oleh Attir jika dia dan bandnya merasa sudah saatnya menjajal ranah di luar Indonesia, setelah menjalin kerja sama dengan BMG International ini. Seperti misalnya saat Speaker First menjajal panggung Woodstock di Polandia beberapa tahun lalu, yang sedikit banyak juga memberi pengaruh hingga akhirnya Speaker First dilirik oleh BMG International.

BACA JUGA - Berhasil Menjajal Kampung Halaman Hip Hop, Basboi Sungkan Mengaku Dirinya Rapper

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner