Playlist Of The Week (27 April - 01 Mei 2020)
Minggu pertama bulan Mei ini, Playlist Of The Week memasuki minggu ke 91, dengan lima buah lagu pilihan yang masuk ke meja redaksi DCDC selama satu minggu ke belakang.
Minggu pertama bulan Mei ini, Playlist Of The Week memasuki minggu ke 91, dengan lima buah lagu pilihan yang masuk ke meja redaksi DCDC selama satu minggu ke belakang.
Siapa saja band DCDC ShoutOut! yang masuk ke DCDC Music Chart minggu ini? simak lima band pilihan Angga Kusuma (Taring, Asiaminor, Janevalla) yang bisa jadi referensi musik menarik untuk kalian nikmati!
Playlist Of The Week yang memasuki minggu ke 90 ini menjadi satu keseruan tersendiri pada minggu pertama bulan Ramadhan, sekaligus menemani coklatfriends semua menikmati waktu di rumah dengan lagu-lagu pilihan.
.Feast dinilai menyudutkan satu genre musik tertentu, sampai akhirnya beberapa musisi yang bersentuhan dengan genre ini mengistilahkan pernyataan mereka dengan sebutan ‘musik peradaban’.
Musisi dengan panggung sebagai wahana bermainnnya sudah dibatasi, dan oleh karenanya, yang paling memungkinkan adalah membuat pola kreasi musik dari rumah, atau dalam hal ini dikerucutkan pada kamar tidur.
Fakecivil merilis album perdana bertajuk Resistensi Musik Bejat. Di dalamnya memuat delapan lagu, simbol perlawanan atas pengekangan kebebasan dari pola pemerintahan yang menggila dengan gaya kolonial cultuurstelstel.
Coklatfriends, simak lima band pilihan music director untuk DCDC Radio, Angga Kusuma (Taring, Asiaminor, Janevalla) yang bisa jadi referensi musik menarik untuk kalian nikmati!
Menemani coklatfriends menghabiskan akhir pekan di rumah aja, Playlist Of The Week yang memasuki edisi ke 89 ini telah siap dengan lima buah lagu yang punya daya pikat tersendiri.
Daramuda telah memilih untuk lahir dan memilih untuk mematikannya. Sebelum akhirnya mereka tua dan menjadi sial, karena seperti apa kata Soe Hok Gie jika, ‘’yang tersial adalah yang terlahir dan mati tua’’
Single “Buta” milik Amalgama berisi bermacam kejutan, di antaranya petikan gitar latin bernuansa flamenco, harmonisasi vokal yang maskulin hingga teriakan bersahutan dibalut bebunyian yang berasal dari “dunia”.
Parahyena menghadirkan ruang kreasi sebebasnya, terutama dalam keterbukaan pikiran serta penuangan yang menjadi titik utama yang coba mereka bagikan di dua albumnya, 'Ropea' dan 'Kirata'.
Oncom Hideung seakan bicara tentang potret Indonesia, di mana ragam pola kreasi tercipta di tubuh band ini. Dengan membawa spirit jalanan, musik yang mereka bawakan menjadi terasa sangat dekat dengan banyak orang.