Parade Single Sarat Makna Dari Oyster
Mengulik lima single Oyster, dengan semua nilai dan hal-hal esensial yang terkadung di dalamnya (bagian kedua)
Alih-alih merangkum kelima lagu tersebut dalam sebuah mini-album atau EP, OYSTER justru membentuk SINGULAR OMNIBUS, terinspirasi dari omnibus (kompilasi film-film pendek dalam satu rilisan). Kata ‘singular’ mereka bubuhkan sebagai plesetan dari ‘singles’. Lagu-lagu tersebut tersedia di portal Spotify dan iTunes, sedangkan liriknya tersedia di Soundcloud. Kelima single OYSTER berikut ini, memiliki artwork cover sendiri-sendiri, agar cerita dalam tiap lagu punya tunjangan visual.
‘GÆA’ – Judul lagu ini dibaca ‘Gaia’, diambil dari nama seorang Titan yang mempersonifikasikan Bumi – ‘The Mother Earth’ atau ‘Mothernature’ dalam mitologi Yunani. Lagu ini memang bercerita tentang Bumi beserta kondisinya yang tampak mengenaskan. Dalam lirik, subjek Sang Titan Bumi ini disebut dengan kata ganti ‘she’ dan ‘her’ – guna memperluas analoginya, agar kita bisa mengibaratkannya dengan seorang wanita yang sedang tertindas dan tersiksa. Aransemen pada lagu ini seperti ekspresi dari sebuah amarah; tanpa basa-basi sejak durasi detik pertamanya. Ibarat alarm emergency yang berkumandang, mendandakan suatu keadaan gawat darurat sedang terjadi di muka Bumi. OYSTER berusaha mengilustrasikan gunung-gunung yang murka, amukan air sungai, atau pohon-pohon yang berdemonstrasi lewat bahasa non-verbal nan musikal. Semuanya disajikan melalui komposisi rock bervoltase tinggi, mendampingi vokal Ogun yang menyimbolkan rintihan keempat elemen bumi. Lagu ini juga menonjolkan bassline yang diselimuti distorsi low-frequency, sedangkan Bobbie menghujam drum kit-nya ibarat ‘sumo’ yang gembira karena sukses diet.
‘THE BALLAD OF LUNAR AND STELLAR’ – Sebuah folklore atau cerpen tentang balada bulan dan bintang. Dimusikalisasi dalam kemasan akustik nan kontemplatif. Ketika obat galau paling mujarab, tidak lain adalah belajar untuk tetap memberi yang terbaik untuk seseorang dengan ikhlas, tulus tanpa syarat, bahkan dari jarak yang tak lagi dekat. Meski terhalang jarak yang membentang, at least manusia masih diselimuti langit yang sama. Sehingga untuk menjadi ‘cahaya’ bagi seseorang, kita tak harus menjadi orang yang paling dekat dengannya. Keindahan (sekaligus kepedihan) macam inilah yang OYSTER coba sketsakan dalam track satu ini – di mana rasa sedih bukanlah alasan untuk berhenti mengagumi seseorang.
Comments (0)