-Part 2- Shoegaze dan Post-Rock Dua Identitas Berbeda

-Part 2- Shoegaze dan Post-Rock Dua Identitas Berbeda

Genre shoegaze hanya bertahan hingga tahun 1992, setelah gelombang Britpop yang dilakoni Suede cs., merajalela di Inggris dan AS (serta Indonesia) selama lima tahun. Band-band shoegazing ada yang bubar dan vakum, sisanya seperti The Boo Radleys, The Verve dan Lush berhasil berevolusi dan memperpanjang usianya. Namun pada dekade 2000-an, sensasi shoegazing lahir kembali melalui generasi baru seperti Serena Maneesh, A Place to Bury a Stranger, Ringo Deathstarr, hingga Tamaryn. Dan band-band ini justru berbeda sekali dengan Sigur Ros atau EITS. Mereka tetap seperti pada pendahulunya, dengan komposisi simpel dan mengandalkan kebisingan maksimum pada musiknya, distorsi, fuzz, tremolo dan juga modulasi.

Masalahnya, pemahaman yang terbatas dan sempit telah mendistorsi shoegaze dan postrock sebagai dua entitas musik berbeda. Keduanya genre musik yang menarik dan unik, tanpa bermaksud merendahkan satu sama lain. Postrock kebetulan saja juga memakai unsur modulasi delay dan reverb pada lagu-lagunya, yang mana dipakai pula oleh sebagian band shoegaze.

Hanya saja, jika labelisasi shoegazing pada segala musik yang berkesan murni khas postrock hanya karena sama-sama bernuansa meruang dan ambient, dan parahnya diikuti istilah musik bunuh diri dan kegalauan pada shoegaze, malah tampak mendistorsi keeleganan dan keunikkan dari shoegaze dan postrock itu sendiri.

Saat ini, sudah mulai banyak atensi yang semakin memerhatikan diferensiasi dari kedua genre ini. Tiga tahun lalu, sebuah inisiatif dari beberapa teman yang mencoba meluruskan miskonsepsi tersebut dengan membuat sebuah acara Tribute to 90's Shoegaze dengan nostalgia band-band lawas seperti MBV, Slowdive, Ride, Chapterhouse, Moose, hingga Swervedriver! Jelas band-band tadi ada yang jarang disinggung bahkan belum pernah ditampilkan dalam sebuah acara di tanah air.

Tentu kita tidak mau terlihat sekadarnya dalam menikmati musik yang tersimpan di hardisk, ipod, atau bahkan koleksi cd dan vinyl di lemari. Lebih detil dalam mengenali apa yang kita sukai, dan memaknainya dengan semestinya, jauh lebih seru ketimbang meracau kesana kemari tentang musik bunuh diri dan kegalauan secara berlebihan. Toh, membunuh diri dilarang oleh setiap agama, bukan!?

I.S.

Disadur dari : http://indonesianshoegazer.blogspot.com/search?updated-max=2011-09-11T07:24:00-07:00&max-results=10&start=20&by-date=false

Postingan : Rabu, 17 Agustus 2011

Foto : http://distorsioni-it.blogspot.com http://soniccereal.com http://www.muessentials.com

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner