"Payudara" by Sajama Cut : Sebuah Resensi, Penghakiman dan Persepsi Tentang Victim Blaming

Penghakiman dan Persepsi; Sajama Cut Merilis Single “Payudara (Bijaksana Beriman)” dan mini-album Untuk Merayakan Satu Tahun Album GODSIGMA

Album terakhir mereka, GODSIGMA, dirilis pada bulan Oktober 2020 dan dengan cepat digadang-gadang sebagai album terbaik mereka sejauh ini (bahkan menjadi salah satu album terbaik tahun 2020 oleh media online lokal). Satu tahun berselang, momen perayaan album GODSIGMA, Sajama Cut merilis single pembuka berjudul “Payudara (Bijaksana Beriman)”. Lagu ini mengetengahkan tema tentang mengkhawatirkannya fenomena victim blaming di Indonesia. Lirik sarkastik dengan aransemen musik yang solid. Tersirat muatan pesan yang selama ini minus di karya-karya Sajama Cut sebelumnya.

Dengan judul yang menohok, bagi sempit pola pikirnya memantik birahi dan bergegas berasumsi bahwa single terbaru Sajama Cut ini akan berisi lirik erotis. Jika begitu, segera tutup jendela artikel yang sedang anda baca sekarang. Tapi, jika ingin berkontribusi membuat sebuah perubahan, berani bersuara lantang dan menganggap narasi tentang kemanusiaan dalam karya lagu terbaru milik Sajama Cut (yang dibalut nafas indie rock ini) sama esensialnya dengan semua hal lain yang berlaku di dunia, silahkan lanjutkan membaca sampai tuntas. Dengarkan! Semoga tergugah dan tercerahkan!

Ada korelasi antara panjang lebar soal victim blaming di awal tulisan ini dengan karya terbaru dari veteran indie rock asal Jakarta, Sajama Cut. Dirilis bertepatan dengan satu tahun perayaan album nomor lima; GODSIGMA; setahun sebelumnya, single berjudul “Payudara (Bijaksana Beriman)”, muasalnya terlahir dari hasil sesi rekaman yang sama dengan GODSIGMA, sebuah album super eksentrik yang banyak menuai pujian, bahkan diganjar predikat salah satu album terbaik 2020 dari berbagai media.

Lagu ini mengangkat tentang victim blaming yang marak terjadi di Indonesia. Fenomena sosial yang makin hari kian menyedihkan. Pandangan pelaku terhadap kata ‘payudara” yang selalu dalam konteks seksual digambarkan dalam lagu, secara berulang diutarakan layaknya pemikiran mereka yang tidak dapat lepas darinya. Sekedar objek pemuas syahwat.

“Lagunya diambil dari sudut pandang tipikal orang munafik yang suka melecehkan dan merendahkan wanita, namun merasa berhak mengatur cara hidup (wanita). Sexist, bahkan misogynistic, suka melarang wanita tampil begini-begitu, karena dia bisa melihat wanita hanya dari sudut pandang sempit dia,” jelas Marcel Thee, sang frontman, yang menganggap Indonesia sudah di taraf mengkhawatirkan untuk urusan pelecehan seksual.

“Judulnya itu sendiri sebenarnya mengarah ke penghakiman dan persepsi,” tambah Marcel. “Kata ‘payudara’ sendiri kan tidak ada konotasi porno, kecuali dari pandangan orang yang ironisnya tidak bisa melihatnya sebagai apapun kecuali objek seksual.”

“Payudara (Bijaksana Beriman)” akan dirilis di semua kanal digital pada tanggal 16 Oktober 2021 lengkap dengan video musiknya, yang disutradarai oleh Nitya Putrini. “Kita yakin 100% bahwa video ini perlu dibuat oleh seniman perempuan, dengan sudut pandang yang lebih nyata dibandingkan kacamata saya dan anggota Sajama Cut lainnya, yang semuanya pria.”

Sebagai penegas kuat pada lagu “Payudara (Bijaksana Beriman)”, kutipan seorang aktivis hak asasi wanita bernama Okke Oscar yang sempat aktif bersama Never Okay Project (inisiatif yang berdedikasi melawan kekerasan seksual) diharapkan bisa memberi pesan lagu tersebut ke dalam konteks yang dimaksud. “Lagu-lagu kita cukup jarang yang ada pesan, dan ini isu yang cukup berat. Jadi saya mau memastikan bisa memberi konteks yang jelas, kuat, dan seharfiah mungkin” ujar Marcel sebagai alasan untuk meminta bantuan Okke.

Berdurasi hampir  6 menit, balutan gitar dan drum bersahutan, berulang menggaung dari detik awal single ini. “Oh, melamun lagi karena kau payudara / Karena kau payudara,” liriknya berbunyi dari sudut pandang si munafik. Dalam satu waktu pun ia disebut secara terang-terangan sebagai si “penyamun” tidak tahu malu; perampas hak perempuan untuk hidup dengan damai.

Bagi Sajama Cut, perilaku munafik seperti ini ternyata senang bertindak sok alim. Ia merasa perbuatannya tidak masalah untuk dilakukan selama ia berdoa setiap saat. “Oh kau beringas/ Lalu kau bertapa,” liriknya berujar tentang sang pelaku, kini dari sudut pandang Marcel, Dion Panlima Reza (gitaris), dan Arta Kurnia Putra (bassist) sebagai lini terbaru Sajama Cut.

Banyak pihak mengakui Sajama Cut termasyhur dengan kesahihan tutur bahasa lirik sarkastik. Kepiawaiannya Marcel Thee menulis lagu lalu dikawinkan dengan raungan bebunyian instrumental memberikan (ironisnya) klimaks emosional kepada pendengar. “Semua sementara’ / Bahagia bersandang / Menikah adalah surga / menikah adalah keluargaku,”  Marcel bernyanyi di penghujung lagu.

Sebagai buah lahir rekaman yang sama dengan GODSIGMA, Marcel merasa bahwa single ini butuh ruang sendiri. “Tadinya memang direncanakan masuk album, tapi kita menghindari lagu ini jadi 'heboh' sendiri karena judulnya. Dan dalam konteks album, susah ada ruang untuk menjelaskannya dengan benar.”

Versi fisik pun akan dirilis secara eksklusif dan terbatas dalam bentuk kaset oleh Orange Cliff Records dan dalam format EP digital oleh platform musik digital The Store-Front.  EP yang dimaksud akan berisi single serta sejumlah live demo dan voice note mentah lagu-lagu yang sudah muncul di GODSIGMA.

BACA JUGA - Resensi Lagu Efek Rumah Kaca - “Normal Yang Baru”

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner