Penuh Ekspresi dan Warna, Gelaran “Unfamiliar Dawn” Sukses Manjakan Indra

Penuh Ekspresi dan Warna, Gelaran “Unfamiliar Dawn” Sukses Manjakan Indra

Sumber Foto : Rafli F

Acara “Unfamiliar Dawn” ini diselenggarakan untuk menunjukan eksistensi musik elektronik eksperimental kepada publik

Beberapa waktu kebelakang, hampir seluruh elemen masyarakat terkena dampak langsung dari ganasnya situasi pandemi. Kebijakan pemerintah yang menerapkan pembatasan aktivitas masyarakat tentunya sangat menjengkelkan ketika kita semua dipaksa untuk diam di rumah. Bahkan segala profesi pun harus bertekuk lutut di hadapan situasi ini. Musisi dan penyelenggara event adalah dua contoh dari sekian banyak profesi yang terdampak secara langsung, dan bisa dibilang keduanya sedang berada di fase “mati suri” kala itu.

Memasuki awal tahun 2022 ini situasi berubah ketika pemerintah mulai melonggarkan kebijakan pembatasan. Hal itu pun tentunya menjadi angina segar bagi para musisi dan penyelenggara event, pasalnya mereka dapat kembali menggelar event secara langsung tanpa koneksi internet. Orange Cliff kemudian menyambut kebijakan tersebut dengan menyelenggarakan event musik elektronik bertajuk “Unfamiliar Dawn” pada 26 Januari 2022 kemarin.

Berlokasi di GROOTS, Jl. Cigadung Raya Barat no. 2, acara ini berisikan performer-performer kawakan di kancah musik elektronik. Diantaranya Mahamboro, Kuntari, Logic Lost, Hunus, Monica Hapsari dan Ramaputratantra. Acara ini sendiri digelar di sebuah pendopo lengkap dengan aksesoris seperti di halaman rumah antik yang menambah kesan estetik. Selain itu, di sisi kiri pendopo terlihat susunan kaset dan poster yang dijual oleh pihak penyelenggara.

Acara ini dibuka oleh penampilan Monica Hapsari dengan bebunyian elektronik yang unik, kemudian disusul oleh Ramaputrantra. Setelah itu, Hunus naik dengan sound effect yang merefleksikan musik-musik adat, bahkan mantra-mantra turut terucap yang membuat saya cukup berdecak kagum. Kuntari dan Mahamboro memiliki penampilan yang sedikit berbeda dengan menggunakan terompet (Kuntari) dan flute (Mahamboro). Yang menjadi unik dari penampilan keduanya adalah suara dari terompet dan flute dilengkapi dengan efek, juga diiringi dengan loop dan bebunyian eksperimental. Di nomor terakhir, Logic Lost mampu menutup konser dengan penampilan yang mampu membuat kepala secara otomatis mengangguk mengikuti tempo.

 

Selain sajian bebunyian sarat akan nuansa eksperimental, penampilan visual dari @Convert.id mampu menambah kesan dan nuansa elektronik semakin terasa. Dengan tatanan lampu penuh warna-warni, Convert menjadi kunci utama di setiap penampilan para performer. Dihadiri oleh cukup banyak penonton, terlihat bagaimana akhirnya mereka bisa kembali menyaksikan konser secara langsung, dan tentunya semua penonton yang hadir di acara ini tak lupa untuk tetap menggunakan masker.

Setelah acara selesai, tim DCDC sedikit menginterview Dally Anbar (Orange Cliff dan Muchos Libre) selaku perwakilan dari penyelenggara, seputar acara “unfamiliar Dawn” ini. Dally mengakui bahwa sebenarnya acara ini diadakan secara mendadak dan merupakan project bersama antara Orange Cliff dan GROOTS selaku pemilik tempat. Acara ini juga menjadi acara perdana yang digelar oleh Orange Cliff di tahun 2022 ini sebagai ajang melampiaskan “amarah” setelah harus terkungkung sekian lama oleh situasi pandemi.

“Konsepnya mah sebenernya tidak berkonsep sih haha, tapi emang ini tuh acara yang terselenggara gara-gara beberapa waktu kebelakang, ketika situasi pandemi lagi ngeri-ngerinya kan ga boleh buat acara, nah akhirnya ketika situasi udah mulai longgar, tiba-tiba Orange Cliff ditawari oleh Groots selaku pemilik tempat. Ya jadinya acara ini tuh adalah konser pertama yang diadain sama Orange Cliff,” jelas Dally.

Kemudian Dally juga turut menjelaskan sebenarnya acara ini awalnya tidak terpikir untuk memberikan nama acara, bahkan ketika proses pencarian media partner pun acara ini belum memiliki nama. Hingga akhirnya datang seseorang (teman Dally) yang juga terlibat di acara ini memberikan nama “Unfamiliar Dawn”.

“Sebenernya nama itu tuh random, karena acara ini tuh dadakan banget, bahkan ketika saya nyari media partner pun nama acaranya belum ada. Terus ada teman yang ngajuin nama ‘Unfamiliar Dawn’ dan kedengerannya keren, ya udah akhirnya nama itu yang dipilih. Asal keren aja haha,” ucap Dally seraya tertawa.

Lalu Dally juga turut menyebutkan bahwa acara “Unfamiliar Dawn” ini diselenggarakan secara kolektif. Semua performer yang diundang pun ikut andil mensupport keberlangsungan acara ini, mulai dari penyediaan audio, visual dan lain-lain. Mengusung acara dengan musik elektronik eksperimental, Dally mengakui bahwa alasannya musik elektronik dipilih karena dirasa lebih simpel dan tak memakan banyak ruang. Selain itu, acara ini juga diselenggarakan untuk menunjukan eksistensi musik elektronik eksperimental kepada publik.

“Soalnya kebutuhan audionya lebih simple sih, dari pihak Groots juga pas datang ke kita langsung mikirin teknis kalo ngadain konser musik elektronik, terus performernya juga punya alat sendiri yang mumpuni. Jadi alesannya ya karena secara teknis lebih simpel aja dari musik full band.” Pungkas Dally.

Terselenggaranya acara “Unfamiliar Dawn” ini semakin membuktikan bahwa kini industri musik sedang kembali merangkak secara perlahan, dan semoga bisa kembali ke situasi normal agar konser dengan skala besar dapat diadakan kembali. Aamiin.

BACA JUGA - Sinergi Sarat Kreasi di Perayaan Ulang Tahun Geoff Max ke 9

View Comments (0)

Comments (0)

You must be logged in to comment.
Load More

spinner