Peran Album Kompilasi Those Shocking Shacking Days dan Now-Again Records
Musisi Indonesia pada jaman dulu memang cukup pintar meramu musik, khususnya untuk aliran rock seperti di album kompilasi ‘Those Shocking Shacking Days’. Tapi kenapa harus label Amerika Serikat yang merilis album ini, bukan Indonesia ?
Beranjak disekitar medio tahun 70-an, Indonesia mempunyai ragam hias warna musik. Sebut saja semacam rock misalnya, yang cukup banyak mengadopsi unsur-unsur musik funk, progressive sampai psychedelia kala itu. Terbukti, dari jejak rekamannya yang kini telah dapat dinikmati oleh penikmat musik muda, beberapa diantaranya banyak terkandung perihal unsur yang telah disebutkan. Kalau lebih dikerucutkan, unsur funk – progressive menjadi kombinasi dalam beberapa karya musik mereka, lalu psychedelia ? selain juga ada di bagian musik serta tak luput diselipkan dalam lirik. Dengan lagam bahasa Indonesia yang sangat baku, penggunaan lirik yang benyak merepresentasikan pengaruh subtansi atau sebutan lumrahnya psychedelia, itu pula yang menjadi salah satu pendobrak sang musisi pada era pemerintahan Presiden Soeharto.
Dari kurun waktu tersebut, beberapa grup musik yang tumbuh kala itu, kini mudah ditemui dalam album kompilasi bertajuk Those Shocking Shacking Days. Tepatnya, didalam album tersebut ada 19 grup musik rock Indonesia. Sebut saja diantaranya mulai dari Panbers, The Brims, Rollies, Superkid, Sharkmove, Golden Wing, AKA, Ivo’s Group, Ariesta Birawa Group, Terenchem, Benny Soebardja And Lizard, Koes Plus, The Gang Of Harry Roesli, Black Brothers, Rasela, Freedom Of Rhapsodia, Rhythm Kings, Duo Kribo, sampai proyek musik solo Murry. Ini adalah sebuah album kompilasi yang cukup unik, karena selain dapat mengenalkan pada penikmat muik saat ini dengan berbagai band rock Indonesia lawas, juga secara tematik konsepnya banyak didominasi oleh lagu-lagu bernuansa psychedelia. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa album kompilasi ini dirilis oleh label bernama Now-Again Records yang berasal dari negara Amerika Serikat, bukan Indonesia ?.
Beberapa pihak baik musisi atau cuma sekedar penikmat musik banyak mengadopsi referensi musik di berbagai penjuru dunia. Tak ada yang salah memang, karena kita memang harus membuka cakrawala lebih luas agar bisa membuat satu perbedaan dari pembuat yang lainnya. Begitu pun dalam perihal musik, baik itu dari segi pendengar ataupun pembuatnya yang disebutkan sebagai musisi.
Tapi ketika melihat dokumentasi perkembangan musik penting seperti yang berhasil dirilis oleh label luar negeri itu. Ada baiknya dan buruknya menurut saya. Disatu sisi luar negeri memang punya kredibilitas baik dalam perihal mencetak rilisan, seperti hal beberapa tempat produksi, label Indonesia sering menggunakan jasa disana demi mencetak piringan hitam artisnya untuk dijual. Disisi lain, secara tidak langsung kita telah melupakan aset berharga perkembangan musik Indonesia, sehingga sosok bernama Egon merilisi album kompilasi Those Shocking Shacking Days bersama labelnya pada tahun 2011 silam dalam format piringan hitam dan CD. Kenapa bisa berbalik seperti ini, bukankah alangkah lebih baik jika dirilis oleh label Indonesia. Tidak mesti harus label berperusahaan besar, label indipenden pun tak jadi masalah menurut saya selagi itu masih ada pertanggung jawaban dari pihak terkait (musisi).
Comments (0)